Serba 7 di Pusuk Buhit

Pusuk buhit adalah sebuah gunung tinggi sisa dari letusan Gunung Toba Purba yang maha dahsyat. Letusan gunung ini tercatat sebagai yang paling besar sepanjang sejarah dunia. Tercatat sedikitnya 4 kali Gunung Toba Purba meletus untuk kapasitas yang cukup besar. Masing-masing terjadi pada 800.000, 300.000, 75.000 dan 45.000 tahun lalu. Tiap kali ia meletus, memunculkan kaldera-kaldera baru. Letusan pertama menciptakan kaldera di wilayah selatan yakni Kaldera Porsea-Balige. Letusan kedua melahirkan kaldera di utara, yakni Kaldera Haranggaol. Letusan ketiga menimbulkan Kaldera Sibandang dengan Pulau Samosir. Letusan terakhir memunculkan Kaldera Bakkara dengan Pulau Simamora sebagai lubang magmanya.
Pusuk Buhit berada di Kecamatan Sianjur Mula-mula. Bagi masyarakat Batak, khususnya Toba, gunung setinggi 1.800 mdpl ini, sangat disakralkan, karena dianggap sebagai tempat asa muasal nenek moyang orang Batak ribuan tahun silam.

Menurut foklor, di gunung inilah pertama kali, Deak Parujar, yang menurut keyakinan tradisi merupakan dewi penciptaan orang Batak, memulai menciptakan kehidupan. Ia pun menurunkan generasi selanjutnya yakni Si Raja Batak. Si Raja Batak inilah yang kemudian dianggap generasi awal dimulainya peradaban modern masyarakat Batak.

Si Raja Batak mulanya membuka kampung di Sigulatti, punggung Pusuk Buhit. Situs perkampungannya itu masih bisa dilihat sampai sekarang yakni, berupa rumah adat Batak yang konon dibangun oleh pemerintah atas prakarsa masyarakat dan lembaga adat-budaya.

Selanjutnya Si Raja Batak membuka perkampungan baru, tepat di kaki Gunung Pusuk Buhit. Kampung itu disebut Sianjur Mula-mula, yang kini telah berkembang menjadi kecamatan.

Sebagaimana perannya dalam kebudayaan masyarakat lokal, banyak cerita menarik yang ada di Pusuk Buhit. Sampai saat ini, kisah-kisah itu terpelihara dengan baik dan sebagian besar di antaranya bahkan masih disakralkan. Berikut uraiannya.

7 Lapis Bukit 7 Jam Perjalanan
Untuk sampai ke puncak Pusuk Buhit, khususnya jika melalui jalur dari desa Limbong, kita akan melewati 7 bukit.

Pusuk Buhit memang terdiri atas berlapis-lapis bukit. Melewati bukit satu persatu, adakalanya semakin menjauhkan kita dari puncak yang sebenarnya. Hal ini disebabkan luasnya diameter gunung ini, serta rute pendakian yang melingkar, sehingga di satu titik kita menjauh dari puncak.

Seringkali para pendaki putus asa karena merasa telah mencapai puncak. Padahal puncak yang sebenarnya justru masih sangat jauh. Tidak heran, jika banyak pula kelompok pendaki yang tersesat baik dikarenakan kabut yang turun mendadak maupun keletihan. Para pendaki amatir, biasanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam untuk sampai ke puncak.

7 Rupa Raja Uti
Dalam kosmologi Batak (Toba) Raja Uti, yakni cucu dari Si Raja Batak, mendapat tempat terpenting dalam spiritual orang Batak. Ia merupakan pengantara manusia dengan Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta). Raja Uti dianggap sebagai peletak dasar hukum dan aturan masyarakat Batak. Ia dikenal sakti dan hidup abadi. Raja Uti menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Batak. Konon Sisingamangaraja I-XII memperoleh kesaktian itu dari beliau.

Tidak heran jika masyarakat Batak menaruh hormat pada tokoh ini. Secara lengkap, arketip Raja Uti beserta orangtua dan saudara-saudaranya ada di kaki Gunung Pusuk Buhit. Sangkin dihormatinya, Raja Uti pun memiliki 7 rupa dan penyebutan, yakni; Ompu Raja Uti, Ompu Raja Pusuk Buhit, Ompu Raja Gumeleng-geleng, Ompu Raja Biak-biak, Ompu Raja Parhata, Ompu Raja Hasaktian dan Ompu Raja Hatorusan. Masing-masing rupa dan penyebutan itu didasarkan atas fungsi dan ketokohannya di dalam spirtualitas masyarakat Batak.

Air Pancur 7 Rasa 7 Nama
Desa Aek Sipitu Dai, Limbong, yang berada di kaki Pusuk Buhit menjadi begitu terkenal karena di sini terdapat sumber mata air yang cukup unik. Mata air berupa 7 pancuran ini, berasal dari resapan air di kaki Pusuk Buhit yang tersaring oleh sebatang pohon Hariara (beringin).

Meski bersumber dari satu mata air, namun memiliki 7 rasa, yang keluar dengan deras dari 7 pancuran itu. Ke-7 rasa itu yakni, masam, pekat, asin, tawar, kelat, kesat, pahit. Tidak hanya rasanya saja. Masing-masing pancur juga memiliki nama yang mempunyai pengertian tertentu. Ke- 7 nama itu ialah; Pansuran ni dakdanak yaitu tempat mandi bayi yang masih belum ada giginya. Pancuran ni sibaso yaitu tempat mandi para ibu yang telah tua, yaitu yang tidak melahirkan lagi. Pansuran ni ina-ina yaitu tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan. Pansur ni namarbaju yaitu tempat mandi gadis-gadis. Pansur ni pangulu yaitu tempat mandi para raja-raja. Pansur ni doli yaitu tempat mandi para lelaki. Pansur Hela yaitu tempat mandi para menantu laki-laki yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong.

7 Batu Sakral
Di Pusuk Buhit juga setidaknya terdapat 7 batu yang disakralkan. Pensakralan itu sebenarnya bukan terletak pada batu-batu itu, namun kisah yang ada di baliknya. Ke-7 batu tersebut, masih berkaitan dengan kisah-kisah Raja Uti, yang teramat disakralkan itu.

Ketujuh batu itu antara lain;
Batu Cawan.
Batu ini berbentuk cawan yang diameternya kira-kira 4 meter. Batu ini berada di salah satu sisi Pusuk Buhit. Batu ini berisi air yang tercurah dari atasnya. Bentuknya mirip telaga. Uniknya rasa air di batu itu, sangat masam, seperti perasan jeruk purut. Permukaannya air pun berminyak dan berwarna kuning kehijauan. Konon batu cawan adalah tempat mandi Raja Uti. Batu ini termasuk yang paling disakralkan di antara situs batu lainnya di Pusuk Buhit.

Batu Losung
Batu ini diciptakan oleh Raja Tatea Bulan, bapak dari Raja Uti. Batu Losung adalah tempat menumbuk padi yang sehari-harinya dikerjakan oleh Boru Sipasu Bolon, istri Oppung Raja Tatea Bulan, untuk makanan Raja Uti.

Batu Sondi.
Disebut juga Liang Raja Uti. Di sinilah tempat Raja Uti menatap karena tubuhnya tidak memiliki kaki, dan tangan. Konon sewaktu Raja Uti lahir, bentuknya sekedar gumpalan daging. Tetapi kemudian disempurnakan berkat doa dan meditasi yang ia lakukan selama bertahun-tahun.

Batu Lobang di Tala-tala
Adalah sebuah batu berlubang yang merupakan tempat Si Raja Uti menghabiskan sebagian waktunya untuk berdoa memohon kesempurnaan dari Sang Pencipta. Batu itu terletak di salah satu sudut di kawasan Tala-tala. Tala-tala sendiri adalah sebuah tempat terbuka, kira-kira 600 meter sebelum puncak. Sebuah areal luas, yang ditumbuhi perdu-perduan. Dulunya tempat ini tergenang oleh air, sehingga menyerupai danau. Ada juga menyebut Tala-tala merupakan salah satu kawah tertua sisa letusan Gunung Pusuk Buhit (Gunung Toba Purba). Tekstur tanahnya longgar sehingga ambruk. Sering terdengar ada pendaki maupun ternak yang hilang di situ, mungkin karena terjerumus ke dalam tanah.

Batu Partonggoan
Tempat khusus meditasi Raja Uti dan berdoa kepada Mulajadi Nabolon (Pencipta). Tempat ini sangat dihormati oleh masyarakat Batak, sehingga jarang sekali dikunjungi.

Batu Hobon
Adalah sebuah batu lubang yang tertutup, berbentuk peti. Lokasinya berada di kaki Pusuk Buhit. Konon di batu inilah pusaka-pusaka Si Raja Batak berada. Pusaka ini tidak diturunkan kepada anak-anaknya, karena adanya perselisihan di antara mereka.

Beberapa tahun terakhir, komunitas marga tertentu rutin menggelar pesta budaya-spiritual di tempat ini. Tujuannya agar batu ini terbuka. Diyakini, batu ini akan terbuka jika seluruh masyarakat Batak yang mewakili marga-marga dari seluruh dunia berkumpul dan menggelar pesta di batu ini, selama 7 kali berturut-turut, setidaknya setiap tahunnya.

Batu Parhusipan
Adalah sepasang batu kembar di dekat Batu Hobon. Konon sepasang batu ini memiliki kisah yang menyakut cerita Si Boru Pareme, adik perempuan yang paling dikasihi Raja Uti.

Alkisah Si Boru Pareme dilahirkan kembar dengan saudaranya Saribu Raja.
(jonnes gultom), sumber: medanbisnisdaily.com

pusuk_buhit

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Dukung Jokowi untuk menjadi Presiden RI

Diprediksi bila Jokowi menjadi Presiden RI maka Indonesia menjadi Dahsyat.

Korupsi yang sudah menjadi tradisi akan terkikis karna ketokohan Jokowi yang tidak korup. Hukum akan ditegakkan, APBN akan berdayaguna dan rakyat menjadi sejahtera.

effendi_mega

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Lirik Lagu Pulo Samosir

Pulo Samosir

Pulo Samosir do haroroanku Samosir do
Ido asalhu sai tong ingotonhu |
Saleleng ngolungku hupuji ho | 2x

Disi do pusokhi pardengkeanhu haumangki
Gok disi hansang nang eme nang bawang |
Rarak do pinahan di dolok i | 2x

Ref : Laope au marhuta sada
Tung sopola leleng nga mulak au
Di parjalangan ndang sonang au
Sai tu Pulo Samosir ma sihol au

Molo marujung ma, muse ngolungku sai ingot ma
Anggo bangkeku disi tanomonmu |
disi udeanku sarihon ma |2xMolo masihol ho, di natinombur masihol ho
manang niura dohot na margota
Di Pulo Samosir do dapot ho, manang niura
dohot namargota di Pulo Samosir do dapot ho

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Onan Pasir Sigaol Simbolon Samosir

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Medan – Seratusan orang dari Partukoan Naposo Bangso Batak (PNBB)

Medan – Seratusan orang dari Partukoan Naposo Bangso Batak (PNBB), salah satu organisasi suku batak di Medan, menggelar aksi demonstrasi menolak atas rencana pemberian gelar Raja Batak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Massa menilai, SBY tidak pantas menyandang gelar raja batak karena tidak mampu memimpin bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Aksi penolakan atas rencana pemberian gelar Raja Batak untuk SBY dilakukan di dua lokasi di Medan. Seratusan orang yang tergabung dalam PNBB semula menggelar aksi di kawasan tugu air mancur, Jl. Sudirman, Medan. Dalam aksinya, massa membawa spanduk dan poster kecaman serta menggelar orasi penolakan atas rencana pemberian gelar Raja Batak kepada SBY. Kemudian massa long march menuju Tugu Raja Sisingamangaraja ke XII di Jl. Sisingamangaraja, kawasan Teladan, Medan. Di lokasi ini, massa mengadu kepada arwah Raja Sisingamangaraja XII karena massa menilai TB Silalahi secara sepihak menjual suku Batak demi kepentingan politik. Dalam aksinya, massa juga menangis dan meraung, memohon agar arwah Raja Sisingamangaja mengutuk oknum yang sengaja menjadikan suku batak sebagai komoditas politik elit tertentu. Koordinator aksi PNBB, Edi Barita Malau menegaskan, SBY tidak pantas menyandang gelar raja batak karena tidak pernah memperhatikan sarana dan prasarana di tanah Batak sejak SBY menjabat sebagai presiden. “Pemberian gelar raja batak kepada SBY hanya akan mencederai pluralisme di tengah-tengah masyarakat batak,” kata Edi. Selain menggelar aksi, massa juga membagi-bagikan selebaran kepada pengendara yang melintas di lokasi aksi serta memasang spanduk di sejumlah titik terkait penolakan pemberian gelar Raja Batak kepada SBY. Pemberian gelar Raja Batak kepada SBY rencananya akan ditabalkan saat SBY menghadiri serangkaian acara di Balige, Kabupaten Tapanuli Utara, Selasa (18/1/2011) lusa. Sementara itu, aksi serupa juga digelar di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pukul 11.00 – 12.00 WIB. Massa memiliki argumen serupa, selain karena SBY tidak memiliki darah batak. (rul/nrl)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Kalender Batak 2010

1. ARTIA: Hari baik untuk mengadakan musyawarah dalam segala hal

2. SUMA: Hari baik untuk memancing ikan, berburu, menjerat dan lain-lain

3. ANGGARA: Hari naas/buang sial, sangat baik untuk berperang dan membuat obat, berburu.

4. MUDA: Hari padi, sangat baik untuk menanam tanaman dan penyemaian

5. BROSPATI: Hari baik untuk berpesta, mendirikan rumah, memasuki rumah baru, mencari pekerjaan dan untuk memulai suatu usaha

6. SIKKORA: Hari baik dalam penentuan, melangkah ke perantauan, melamar pekerjaan, menjumpai orang besar (berpangkat), memulai berdagang, pesta perkawinan, meminang kekasih

7. SAMISARA: Hari “Raja”, sangat baik untuk pengantin baru, pesta, kawin lari, memanggil roh, mandi bunga

8. ARTIANNIEAK: Hari baik untuk semua pesta, musyawarah, mandi bunga, memasuki rumah baru, maaf-maafan, dan memulai usaha baru

9. SUMANI MANGADOP: Hari kurang baik, waspadalah dalam segala hal.

10. ANGGARA SEPULU: Hari sial, berhati-hatilah dalam berkomunikasi, sangat baik untuk membuat obat baru dan memancing

11. MUDA NI MANGODOP: Hari santai )istrahat) dan sangat baik untuk berpesta

12. BROSPATI NI TUNGKUP: Hari baik untuk menyuapi orang besar (berpangkat) melamar suatu pekerjaan, memanggil roh keluarga, mandi bunga, bersekutu dengan Tuhan Ynag Maha Esa

13. SIKKORA PURASA: Hari baik untuk pesta perkawinan, mendirikan rumah, mengunjungi orang tua atau mertua, memasuki rumah baru dan mandi bunga

14. SAMISARA PURASA: Hari “Raja”, sangat baik mengadakan pesta besar, pesta muda-mudi, mengantar anak ke rumah mertua, mandi bunga

15. TULA: Hari sial, yang baik dilakukan menebas ladang dan menanam kelapa

16. SUMA NI HOLOM: Hari yang kurang baik, tetapi baik untuk memancing dan berburu

17. ANGGARA NI HOLOM: Hari buang sial, mandi bunga dan membuat obat

18. MUDA NI HOLOM: Hari panen padi, sangat baik untuk memulai panen padi, memasukkan padi kedalam lumbung

19. BROSPATI NI HOLOM: Hari baik untuk menebang pohon kayu guna bahan bangunan rumah dan memancing

20. SIKKORA MORATURUN: Hari baik untuk mengunjungi sanak famili, pindah rumah dan mengangkat tulang

21. SAMISARA MORATURUN: Hari baik untuk memasang jerat, memancing dan berburu

22. ARTIAN NI ANGGA: Hari baik untuk turun ke laut, membuang penyakit, mandi bunga, membuat obat, memancing ikat dan membuat obat

23. SUMANI MATE: Hari baik untuk berburu dan memancing

24. ANGGARA NI BEGU: Hari baik untuk memanjatkan doa, minta rejeki dan mandi bunga

25. MUDA NI MATE: Hari padi, memanen dan pesta

26. BROSPATI NI GOK: hari baik untuk istrahat, membawa makanan untuk orang tua, mengganti pakaian orangtua, mengunjungi mertua, pesta pernikahan dan membuat obat

27. SIKKORA DUDUK: Hari penyakit, membuat obat, berburu dan memancing

28. SAMISARA BULAN MATE: Hari baik turun ke laut, membuat penyakit, berburu dan memancing

29. HURUNG: Hari kurang aik, berhati-hati dalam rencana/langkah

30. RIKKAR: Hari baik untuk saling maaf-memaafkan (musyawarah) memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber : http://manik.web.id/

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pusuk Buhit wisata alam yang indah dan penuh dengan sejarah

Pusuk Buhit atau dolok natimbo, demikian masyarakat Batak yang berada di Toba Samosir, Sumatera Utara, menyebutnya. Perbukitan dengan ketinggian berkisar 1.800 mdpl tersebut ditumbuhi berbagai pepohonan kecil serta pohon pinus.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak dari bukit inilah untuk pertama sekalinya pencipta alam semesta menampakkan diri, yang dinamakan oleh orang Batak dengan sebutan Mula Jadi Nabolon. Sehingga wajar kalau sampai sekarang kawasan ini masih keramat dan dijadikan salah satu kawasan tujuan wisata sejarah.
Memang membincangkan potensi wisata Toba Samosir tampaknya tidak akan pernah merasa puas, apalagi jika perjalanan itu baru pertama kalinya kita lakukan. Hal ini wajar karena potensi yang di miliki memang sangat kaya terutama soal keindahan alam. Apalagi dipadukan dengan cerita sejarah, boleh dibilang daerah ini adalah salah satu lumbung dari cerita sejarah yang bisa menemani perjalanan wisata Anda. Dari sekian banyak yang bisa dinikmati misalnya Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan, Perkampungan Siraja Batak, Pusuk Buhit, Air Tujuh Rasa dan lainnya.
Dari atas perbukitan ini, sebagai wisatawan yang baru pertama berkunjung ke sana pastilah akan tertegun sejenak. Karena selain panorama yang disajikan memang sangat indah, kita juga bisa melihat secara leluasa sebahagian besar kawasan perairan Danau Toba sekaligus Pulau Samosirnya. Selain itu dari lereng perbukitan tersebut pengunjung yang datang bisa juga menikmati panorama perkampungan yang berada di antara lembah-lembah perbukitan seperti perkampungan Sagala, Perkampungan Hutaginjang yang membentang luas.

Selain pemandangan ini, wisatawan yang datang ke sana tentunya akan melihat dan mendengar gemercik aliran air terjun yang berada persis di perbukitan berdekatan dengan perkampungan Sagala. Masih dari lereng bukit yang jalannya berkelok-kelok tetapi sudah beraspal dengan lebar berkisar 4 meter, pengunjung juga bisa memperhatikan kegiatan pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya. Malah yang lebih asyik lagi adalah menikmati matahari yang akan terbenam dari celah bukit dengan hutan pinusnya.

Untuk mencapai puncak bukit tersebut, pengunjung bisa menggunakan bus roda empat maupun kenderaan roda dua. Namun bus yang dipergunakan tidak bisa sampai di puncak sehingga harus berjalan kaki berkisar 500 meter dari titik akhir parkir kenderaan yang berada di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-Mula. Namun demikian sikap waspada harus tetap dipasang, karena memang jalan yang berkelok-kelok tersebut di kanan dan kirinya selalu ada jurang yang terjal. Selain itu sebelum menuju Pusuk Bukit, dari kawasan Pangururan pengunjung bisa menikmati secara utuh pemandangan bukit dengan latar depan air Danau Toba.
Sementara itu, satu paket dengan perjalan menuju ke puncak Pusuk Buhit pengunjung juga bisa menikmati apa yang disebut dengan sumur tujuh rasa. Disebut sumur tujuh rasa karena memang sumur ini memiliki tujuh pancuran yang memiliki rasa air yang berbeda-beda. Bagi masyarakat sekitar Sumur Tujuh Rasa tersebut sehari-harinya dipergunakan sebagai sumber utama air bersih. Sehingga tidak mengherankan kalau wisatawan datang, banyak masyarakat yang menggunakan air yang berada di sana.

 
Sumur Tujuh Rasa sebenarnya berada di Desa Sipitudai satu kecamatan dengan perbukitan Pusuk Buhit yaitu Sianjur Mula-Mula. Kalau kita mencoba untuk merasakan ketujuh air mancur yang ada, maka dari sumber air mancur itu akan kita rasakan air yang terasa: asin, tawar, asam, kesat serta rasa yang lainnya. Sementara berdasarkan keterangan masyarakat setempat, sumber air yang mancur itu keluar dari mata air yang berada di bawah Pohon Beringin. Memang di bawah lokasi Sumut Tujuh Tersebut tumbuh besar pohon beringin yang sangat rindang dan membuat teduh sekitar lokasi sumur.
Keberadaan Sumur Tujuh Rasa ini sebenarnya sudah lama seiring dengan keberadaan masyarakat perkampungan Sipitudai. Masyarakat sekitar mempercayai kalau keberadaan sumur ini tidak terlepas dari cerita raja Batak yang berada di lokasi tersebut. Kalau cerita muncur ke belakang, maka masyarakat menyebutkan bahwa dulu diperkampungan ini ada kerajaan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mandi serta lainnya mereka mengandalkan sumber air ini.
Cerita ini mungkin ada benarnya, sebab kalau kita amati secara teliti di lokasi yang telah disekat dengan tembok beton oleh masyarakat sekitar akan kita temukan peniggalan seperti batu cucian dari batu alam, lubang-lubang untuk permainan congkak. Jadi, masyarakat yang ada memang mempercayai kalau sumur ini masih keramat dan menjadi salah satu objek yang sering dikunjungi wisatawan yang datang. Hanya satu catatan yang penting untuk lokasi ini adalah masalah penataan dan kebersihan yang memang belum memasyarakat. Tentunya kondisi ini menjadi catatan tersendiri bagi pemda dan masyarakat untuk melakukan penaaan yang lebih baik lagi.

Setelah bergerak menyusuri jalanan yang ada berkisar,maka wisatawan yang berkunjung akan menemukan satu lokasi yang keramat yang disebut lokasi Batu Hobon, Sopo Guru Tatean Bulan atau Rumah Guru Tatea Bulan serta perkampungan Siraja Batak yang lokasinya tidak berjauhan. Dan bila kita tarik garis lurus, maka posisi ketiga lokasi yang masih dianggap keramat ini persis lurus dari satu perbukitan ke perbukitan yang berada di bawahnya. Ketika berada di Sopo Guru Tatea Bulan akan ditemukan patung-patung Siraja Batak dengan keturunannya. Di rumah dengan desain khas masyarakat batak ini juga akan ditemukan patung-patung sebagai penjaga rumah seperti gajah, macan, kuda. Sementara rumah yang berdiri di atas bukit ini didesain dari kayu dan tangga dari batu tetapi atapnya tetap terbuat dari ijuk. Namun yang lebih penting lagi adalah ketika ingin masuk dan memperhatikan lebih detail lagi seluk rumah ini, maka Anda harus melepaskan sandal maupun sepatu. Secara lebih detail di Sopo Guru Tatea Bulan akan kita temukan patung-patung keturunan Siraja Batak, seperti Patung saribu raja berpasangan  dengan istrinya, Patung keturunan Limbong Mulana, Patung Sagala Raja serta Patung Silau Raja.

 Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak marga-marga yang ada sekarang ini berasal dari keturunan Siraja Batak. Selain itu keberadaan rumah ini juga telah diresmikan oleh DewanPengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tate Bulan tahun 1995 yang lalu. Artinya ketika kita berada di sana akan ditemukan juga penjaga yang akan menjelaskan keberadaan patung yang berada di Sopo Guru Tatea Bulan serta sejarah ringkasnya.
Sejalan dengan legenda itu, pengunjung juga akan menikmati Batu Hobon yang konon menurut cerita merupakan lokasi yang dijadikan penyimpanan harta oleh Siraja Batak. Batu ini berada di perbukitan yang lebih rendah lagi dari Sopo Guru Tatea Bulan berdekatan dengan perkampungan masyarakat. Berdasarkan sejarah Batu Hobon ini tidak bisa dipecahkan, tetapi kalau dipukul seperti ada ruangan di bawahnya. Namun sampai sekarang tidak bisa dibuka walaupun dicoba dilakukan dengan menggunakan mortir.

Selanjutnya untuk melengkapkan referensi tentang sejarah Sopo Guru Tatea Bulan, maka akan ditemukan perkampungan Siraja Batak. Lokasi perkampungan ini berada di perbukitan yang berada di atasnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh sekali berkisar 500 meter.
Untuk kelengkapan perjalanan menuju Pusuk Buhit setidaknya harus berhenti sejenak di atas perbukitan yang berada di Desa Huta Ginjang. Mengapa? Karena dari lokasi ini akan terlihat jelas Pulau Tulas yang berdampingan dengan Pulau Samosir. Pulau Tulas itu sendiri tidak memiliki penghuni tetapi ditumbuhi dengan semak belukar dan hidup berbagai hewan liar lainnya.
Sudah lengkapkah perjalanan wisata kita! Tentulah belum, sebab untuk mengakhirinya kita harus berada di puncak Pusuk Buhit. Setidaknya untuk mendapatkan dan merasakan semilir angin sejuk di puncaknya sambil memandang panorama Danau Toba sesungguhnya. Sedangkan untuk menghilangkan keletihan dan mengambil semangat baru, pengunjung bisa menikmati air hangat setelah turun persis berada di kakai Pusuk Buhit bernama pemandian Aek Rangat yang berada di Desa Sihobung Hobungi. Setidaknya rasa lelah dan semangat baru kembali datang.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment