Kisah Sileang Nagurasta (Asal usul Marga Simbolon)

Tersebutlah Ompu Mulajadi Nabolon (yang berkuasa  menurut kepercayaan orang batak dimasa lampau), yang konon katanya bertempat tinggal di langit. Ada sepuluh orang putranya tiga laki-laki dan tujuh orang perempuan. Yang tercantik diantara ke tujuh anaknya yang perempuan adalah Siboru Leang Nagurasta. Dia pulalah yang bungsu dari kesepuluh bersaudara anak Ompu Mula Jadi Nabolon. Selain beranak Ompu Mula Jadi Nabolon juga mempunyai seorang saudara perempuan. Itulah yang menganakkan Sudiraja Simbolon.

Sekali peristiwa Sudiraja Simbolon pergi berburu ke lembah bukit Pusuk Buhit. Dalam perburuannya itu dia melihat seekor burung tekukur yang amat cantik, sehingga timbul keinginannya untuk menangkap dan membawanya pulang. Sayangnya tidak begitu mudah untuk mendapatkan burung itu. Tak ubahnya seperti kata pribahasa : “Jinak-jinak merpati”, rasa-rasa akan dapat ditangkap, namun begitu akan dipegang dia melompat dan menjauh ketempat lain. Begitu asiknya Sudiraja mengejar burung itu dari sebuah tempat ke lain tampat, dengan tak disadarinya dia telah sampai di puncak bukit. Disana didapati sebuah tempat permandian, tempat putri-putri Ompu Mula Jadi Nabolon berenang dan berkecimpung bersukaria.

Ketika Sudiraja sampai disitu didapatinya ketujuh puteri sedang mandi-mandi. Dia sangat terpikat dengan kecantikan si Leang Nagurasta, yang memang tercantik dari ketujuh bersaudara. Timbul keinginannya  untuk mendapatkan gadis itu, tetapi belum tahu cara yang dapat dilakukannya. Namun akhirnya diketahuinya juga, yakni dengan jalan mengambil baju tuan putri (dalam versi lain Sudiraja menceritakan hal pemandian tersebut kepada orang tuanya, tapi dia dilarang untuk pergi kesana, bahkan diceritakan Sudiraja pernah dihukum berat sama ayahandanya karna masih saja berniat pergi kesana. Ibundanya memberitahu caranya setelah berulang kali Sudiraja membujuk ibunya.)

Adapun baju bagi putri-putri itu selain penutup tubuh juga bertugas sebagai sayap untuk terbang ke langit ke tempat asalnya. Jika baju itu sempat diambil orang, maka tertutuplah jalan untuk pulang ke langit, dan tinggallah di bumi seperti manusia biasa lainnya. Hal inilah yang rupanya diketahui oleh Sudiraja. Begitulah ketika mandi sudah selesai, maka ketujuh putri itu naik ke darat dan masing-masing mengambil dan mengenakan bajunya. Hanya si Leang Nagurasta juga yang tidak melihat bajunya, sudah dicarinya kesana kemari, namun tidak berhasil ditemuinya. Karena sudah lama menunggu maka hilanglah kesabaran kakak-kakaknya, maka diputuskanlah untuk meninggalkan sibungsu, dan yang lain terbanglah ke langit.

Alangkah sedihnya perasaan si Leang Nagurasta ditinggalkan kakak-kakaknya itu. Tapi apa hendak dikata, karena semua sudah berangkat meninggalkan dia seorang diri. Dan ketika Nagurasta dalam suasana sedih dan bingung itu muncullah Sibolon memperlihatkan baju yang hilang, tetapi tidak dengan maksud untuk mengembalikan. Terkejutlah putri itu mengetahui bajunya ada ditangan seorang pemuda. dicobanya meminta namun si pemuda tidak mau menyerahkan. Sigadis mendekati pemuda itu dengan maksud hendak merebut baju tersebut, tapi Sibolon melompat mengelak diri. Demikianlah diperbuatnya berulang-ulang, sehingga lama kelamaan sampailah mereka ke kampung orang tua Sibolon. Disana pemuda itu hilang dari penglihatan gadis tersebut, tak diketahuinya dimana ia bersembunyi. Dilihatnya ada sebuah rumah, didatanginya dan bertemulah dia dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah bibinya (adik ayahnya) sendiri. Maka ditanyakanlah tentang pemuda tersebut oleh Nagurasta, dijawab oleh perempuan itu bahwa dia tak melihatnya. Kemudia diajaknyalah Nagurasta tinggal di rumahnya.

Akan halnya Sudiraja, setibanya dirumah segera menyembunyikan baju Nagurasta yang diambilnya dan segera berbuat pura-pura tidur. Baju itu disembunyikannya didalam sondi. Dia mempunyai sejenis kepandaian dapat mengubah wajah sehingga tak mudah dikenal orang. Beberapa lama dirumah itu Nagurasta sangat benci melihat pemuda tersebut, tapi kemudian Sibolon menukar siasatnya. Diubahnya wajahnya menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan dan dipakainya pula pakaian yang bagus-bagus. Nagurasta yang melihat ada pemuda tampan dirumah bertanya kepada bibinya, yang tak lain dari pada ibu Sibolon tentang siapa pemuda itu. Sejak waktu itu Nagurasta mulai tertarik kepada Sibolon dan menyatakan ingin bersuamikan pemuda itu. Hal itu dapat disetujui oleh Sibolon dan ibunya, maka kawinlah mereka.

Mereka beranak dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki yang tua bernama Simbolon Tua Nahodaraja, dan yang kecil perempuan bernama si Mombang Tua. Pada suatu kali Sudiraja ingin mengadakan pesta adat untuk anaknya. Dipukullah gendang dan orangpun menarilah, namun yang paling menarik dari semua itu adalah si Leang Nagurasta juga. Dia menarik karena cantiknya yang tetap saja seperti waktu gadisnya. Tapi dia juga menarik karena dia jugalah yang paling pandai menari diantara orang-orang yang sedang menari, seluruhnya ditempat pesta tersebut.

Raja Sitempang Raja Naibaho adalah seorang raja didaerah Pangururan. Sifatnya keras dan katanya pantang ditolak. Raja ini bersama-sama dengan pengetua-pengetua adat lainnya ingin melihat Nagurasta lebih cantik lagi. Merekalah menganjurkan kepada Sudiraja supaya memakaikan baju terbang yang dibawa dari langit kepada si Leang Nagurasta. Tuan putri itu sendiri tak mau melakukannya karena hal itu akan memisahkannya dengan anak dan suaminya. Jika baju sampai dipakainya, maka ia akan segera diterbangkan ke langit, dan hal itu tidak diinginkannya lagi, karena kasihnya kepada anak dan suaminya.

Raja si Tempang tetap mendesak, dan sebagai usaha pencegahan supaya Nagurasta tidak diterbangkan, maka disuruhnyalah membuat penutup tempat pesta itu dengan langit-langit tujuh lapis. Sesudah itu dipakaikanlah baju itu kepada Nagurasta, ia menerima perlakuan itu dengan peresaan teramat sedih. diciumilah dan ditangisinyalah anaknya, dan dia pun menari kembali. Memang sesudah memakai baju itu kecantikannya bertambah berlipat ganda, dan tariannya tambah lebih mempesona para penonton yang hadir di tempat itu. Pemukul gendang tambah bersemangat memainkan alat-alatnya, dan hadirin dengan tak sengaja terbawa dalam arus tarian, seolah-olah semua terpukau oleh suasana tarian yang dibawakan Nagurasta. Dan pada waktu itulah dia tiba-tiba melayang dari lapangan pesta, terus melambung ke angkasa menembus langit-langit penahan dengan mudahnya. Orang yang hadir terheran-heran, anak-anaknya menangis dan menangis dengan penuh kesedihan, begitupula Sudiraja  tak tau apa yang harus diperbuatnya melihat sang istri sudah pulang ke langit.

Dilangit Nagurasta kembali menemui orang tuanya dan saudara-saudaranya yang sudah lama ditinggalkannya. Tetapi mereka semua tidak sudi lagi menerimanya ditengah-tengah mereka. Agaknya mereka menganggap si Leang Nagurasta sudah tidak sesuci semula karena sudah bercampur dengan makhluk manusia di bumi. Sebagai jalan penyelesaian Ompu Mulajadi Na Bolon menyurus Nagurasta untuk pindah ke bulan dan bertempat tinggal disana. Hal itu dipatuhi oleh Nagurasta. Keturunannya dibumi mempercayai bahwa tuan putri itu memang dapat dilihat dari bumi jika bulan sedang purnama. Kepada keturunan Simbolon dipesankan, bahwa jika terjadi gerhana bulan itu tandanya sang putri sedang datang ke bumi melihat keadaan anak cucunya. Hanya saja keturunan yang bermarga Simbolon dilarang meneriakkan dan memberitahukan adanya gerhana terlebih dahulu. Haruslah orang lain yang melakukan hal itu lebih dahulu, barulah boleh diikuti keturunan Simbolon. Keadaan seperti itu kabarnya masih dipatuhi oleh orang-orang bermarga Simbolon.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kisah Sileang Nagurasta (Asal usul Marga Simbolon)

  1. Pingback: Tarombo ni Siraja Batak | Raja Nabolon

  2. Sibolis-naburju says:

    Apakah ada turunan parna yg kawin ke silahi sabungan, krn sebagian keturunan silahisabungan mengaku oppung borunya keturunan naiambaton yaitu pintahaomasan. Mauliate

    • simbolonjr says:

      Itu benar ada dan sudah sejak lama itu merupakan bagian adat yang sudah berlangsung. Kalau ada keluarga yang bisa melengkapi informasi ini akan sangat menolong, termasuk kediaman mereka dahulu. Saya pernah dengar cerita ini, tapi rada lupa bah.. nanti kalau udah ingat jelas lagi mungkin kita bisa chat. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s