Pusuk Buhit Layak Jadi Icon Parawisata Toba

Dengan ketinggian 1995  meter  dari permukaan  laut, menurut legenda gunung Pusuk Buhit merupakan  pemukiman nenek moyang orang Batak yang diturunkan dari langit oleh Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa). Nenek moyang orang Batak (Si Raja Batak adalah manusia yang pertama kali diturunkan di Pusuk Buhit) dari keturunannya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Karena  itu, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal mula orang Batak. Pegunungan dan panorama yang menarik menambah keindahan pemandangan. Di  kaki Pusuk Buhit  terdapat  bangun rumah tradisional  Batak. Menurut legenda terjadinya danau Toba dan Pusuk Buhit  akibat peristiwa geografis/geologis  yang disebut menjadi salah satu keajaiban dunia. Danau Toba yang terbentang dengan luas 1.265 km2, panjang 90 kilometer dengan  kedalaman rata-rata 450 meter  dan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Danau Toba  merupakan danau yang terluas dan terdalam di  dunia sehingga  tampak bagai samudera air tawar tak bertepi dengan air jernih. Di atasnya terbentang dari utara  ke selatan Pulau Samosir.

Pusuk Bukit dan kawasan danau Toba (dataran tinggi Toba) menurut penelitian adalah gunung api raksasa (supervolcano) dengan tingkat letusan mencapai skala 8 VEI dan material yang  dimuntahkannya lebih dari 1.000 kilometer kubik. Supervolcano yang pernah terjadi dan diindentifikasi di muka bumi adalah Sv Toba, Indonesia dan Sv Yellowstone, Amerika.

Pakar peneliti menyebutkan, letusan supervolcano Toba pertama terjadi pada saat gunung apinya berpusat di  Porsea, kabupaten Toba Samosir yang meledak 1,7 juta tahun yang lalu dengan tingkat letusan 8 VEI dengan  memuntahkan batu-batuan gunung api dan abu panas  dengan semburan panas mencapai  1.000 derajat Celsius yang dapat melelehkan silika (SiO2). Material yang disemburkan dengan ketebalan 500 meter. Letusan berikutnya terjadi 400.000 tahun  lalu dengan kekuatan yang sama 8 VEI sehingga gunung api tersebut membentuk kaldera di kawasan Porsea.

Gunung api kedua muncul di Haranggaol dan meledak sekitar 800.000 tahun yang lalu yang membentuk kaldera Haranggaol. Sedang gunung api yang ketiga  gunung api Sibandang yang meletus dahsyat  75.000 tahun yang lalu.Letusan berikutnya 30.000 tahun yang lalu yang akhirnya membentuk letusan kepundan berupa cincin  yang keluar melalui kepundan yang melingkari Pulau Samosir sekarang. Banyaknya material yang dimuntahkan dari gunung api menimbulkan terbentuknya ruang kosong di badan  gunung api dan dengan pengaruh gaya tarik bumi, badan  gunung api tersebut runtuh begitu dalam dan terbentuklah kaldera Sibandang. Pulau Samosir adalah tubuh bagian puncak dari gunung api Sibandang yang runtuh. Kaldera Sibandang secara evolusi kemudian berisi air yang melimpah dari dataran di sekelilingnya yang akhirnya terkumpul dan terbentuklah Danau Toba.

Studi paleoantropologi menyebutkan, akibat  debu letusan terakhir gunung api Toba di Sibandang banyak spesies primata (monyet) yang mati apalagi dengan suhu semburan 500 derajat Celsius sehingga  batu bara muda di kawasan Lintongnihuta.Setelah letusan gunung api supervolcano Toba, muncul gunung api baru yaitu gunung Pusuk Buhit  Pangururan/Sianjur mulamula, kabupaten Samosir dan gunung Sipisopiso di Merek, kabupaten, Tanah Karo.

Seorang geologist Belanda Van Bemmellen menyebutkan, Pulau Samosir terbentuk dari aliran lava gunung Batak yang merupakan erupsi dari dua vulkanik terbesar, sebuah letusan vulkanik terbesar di dunia. Aliran lava membentuk Danau Toba seluas 294 km2, panjang 87 kilometer dan lebar terjauh 31 kilometer. Sedang  luas Pulau Samosir disebutkan 640 km2 dan puncak Samosir berada pada ketinggian 1.657 meter  di atas permukaan laut.Kedalaman Danau Toba di kawasan Haranggaol, kabupaten Simalungun adalah 525 meter.
Keunikan dan keotentikan supervolcano Toba dapat dijadikan sebagai objek penelitian ilmiah dan menjadi geopark di kawasan Asia mendampingi geopark Langkawi, Malaysia. Dengan latar belakang sejarah purbakala orang Batak dan hasil penelitian geologi yang menyebutkan kawasan Danau Toba sebagai kaldera letusan gunung api,  Pusuk Buhit  layak dan strategis untuk dijadikan sebagai icon pariwisata kabupaten Samosir

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Tarombo ni Siraja Batak

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng, Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…), keturunannya kearah Barus mereka banyak tidak menggunakan marga.
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN

RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual tetap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu perempuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

  1. Datu Dalu (Sahangmaima).
  2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
  3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
  4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
  5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
  6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :

  1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
  2. Tinendang, Tangkar.
  3. Matondang.
  4. Saruksuk.
  5. Tarihoran.
  6. Parapat.
  7. Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:

  1. Malau
  2. Manik
  3. Ambarita
  4. Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.

Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:

  1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
  2. Op Raja Marihot
  3. Op Marhajang
  4. Op Rajani Umbul

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).

Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.

Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki

  1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
  2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
  3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.

Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita

TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :

  1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
  2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
  3. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai lima orang putra, dan satu orang putri yaitu:

  1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon. Bagi yang ingin mendalami diyakini Ompung Simbolon Tua inilah yang disebut dengan Ompung Pangultop yang terdapat dalam kisah Sileang Leang Nagurasta.
  2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba.
  3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
  4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
  5. Nahampun.

Dan Putrinya

1. Uli Bulung. Namboru ini tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan. Semasa hidupnya belajar dan ahli dalam  mengobati. Dia masih datang melalui sorangannya untuk mengobati hingga saat ini.

Dari kelima marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku ” Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

NAHAMPUN

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:

  1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
  2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
  3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
  4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
  5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):

  1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
  2. Si Paet Tua.
  3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
  4. Si Raja Oloan.
  5. Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
  2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
  3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
  4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
  2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
  3. Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Sihaloho.
  2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
  3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
  4. Sidabutar. Sinabutar (atas koreksian @Soeguest dan @Binsar Sitio) *)
  5. Sidabariba, Solia.
  6. Sidebang, Boliala.
  7. Pintubatu, Sigiro.
  8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
  2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
  3. Bangkara.
  4. Sinambela, Dairi.
  5. Sihite, Sileang.
  6. Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Maha.
  2. Sambo.
  3. Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
  2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Sitompul.
  2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
  2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”

artinya:

“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:

  1. Marbun dengan Sihotang
  2. Panjaitan dengan Manullang
  3. Tampubolon dengan Sitompul.
  4. Sitorus dengan Hutajulu – Hutahaean – Aruan.
  5. Nahampun dengan Situmorang.

Catatan:

Ada sedikit tambahan untuk keturunan Nai Ambaton (Parna), untuk yang berkepentingan dapat menghubungi saya untuk penjelasan yang aktual. Silahkan email ke simbolonjr@yahoo.com.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Potensi Wisata Toba Samosir

I.POTENSI BUDAYA/SEJARAH
1.Kawasan Cagar Budaya Pusuk Buhit dengan tempat bersejarah perkampungan si Raja Batak (perkampungan 5 sub etnis Batak)
2.Batu Sawan (batu mengeluarkan air rasa jeruk purut dan pemandian si Raja Batak
3.Batu Hobon (batu tempat menyimpan harta karun-pusaka orang Batak,
4. Batu Parhusipan;, Batu Pargasipan;
5. Aek Sipitu Dai (mata air 7 rasa, dan pancuran khusus)
6.Aek Siboru Pareme (tempat pemandian khusus),
7. Aek Boras (tempat pengambilan air Guru Tatea Bulan)
8. Patung Guru Tatea Bulan,
9. Aek Rangat (pemandian air panas belerang)
10.Pulau Tulas di Danau Toba kaki Pusukbuhit
11.Perkampungan Si Raja Batak di Sagala
12.Tano Ponggol (Terusan), menghubungkan Danau Toba dari arah Selatan ke Utara (sebaliknya) dan di atasnya sebuah Jembatan menghubungkan Pulau Samosir ke Pulau Sumatera melalui Jalan Tele.
13.Mata air dan Pohon Pokki, di Sihotang. 2 km dari Pelabuhan Sihotang. Air jernih milik boru Sihotang, di bawah pohon pokki
14.Sentra Tenun Ulos Batak, di Desa Lumban Suhi- suhi, 4 km dari Pangururan
15.Aek Liang, sebuah gua berisi air memberi dan memenuhi kebutuhan air Desa Aek Liang.
16.Gua Sidamdam dan Makam Si Damdam, tempat persembunyian Pahlawan Si Damdam Malau melawan musuh. Beliau dikebumikan di Desa Siambalo Rianiate
17.Gua Simalliting, sebuah lubang besar di Desa Aek Liang, 2 km ke arah Barat Danau Sidihoni. Di lokasi pengunjung dapat melempar batu dan akan menimbulkan bunyi gemerincing.
18.Batu Hitam, di Desa Sabungan ni Huta, 5 km dari Pangururan. Konon batu berwarna hitam ini dianggap suci dan sakral. Sering didapati burung yang hinggap di atasnya mati, dan menurut para orangtua di tempat ini orang harus berperilaku sopan.
19.Batu Rantai, terdapat di Kota Mogang, tempat bersejarah. Di lokasi terdapat batu yang berpindah- pindah, sehingga oleh Pemerintah Belanda pada Zaman penjajahan batu tersebut diikat dengan rantai supaya tidak berpindah- pindah lagi.
20.Makam si Piso Somalin, merupakan tempat bersejarah di Kota Mogang, 30 km dari Panguuran. Piso adalah sebuah pisau yang digunakan untuk melerai pertentangan antara 2 kelompok masyarakat yang bertikai hebat pada zaman dahulu. Konon Pisau Somalim sangat ampuh dan menciptakan rasa aman- kedamaian bagi masyarakat.
21.Pemandian Boru Saroding, sebuah sumber air pemandian para putri cantik yang turun dari kayangan. Dahulu seorang putri terpaksa tidak bisa kembali dan menjadi Istri seorang Pria dan memberi keturunan. Pemandian Boru Saroding berada di Desa Ransang Bosi sekitar 35 km dari Ibu Kota Pangururan. Penduduk disekitar ramah dan bersahabat.
22. Mata Air Datu Parngongo, terletak 4 km dari Pelabuhan Tamba Kecamatan Sitiotio, arah lokasi menuju bukit. Air jernih, terawat dengan baik,masyarakat meyakini air mempunyai khasiat menyembuhkan penyakit.
23. Gua Datu Parngongo, berada dilering bukit di bawah Mata air Datu Parngongo. Konon gua digunakan untuk tempat semedi Datu Parngongo dalam mempertahankan diri menghadapi musuh.
24. Sigale gale di Tomok; Sigale-gale adalah sebuah patung seorang yang terbuat dari kayu mirip manusia, peninggalan Raja Manggale; yang dapat digerakkan untuk menari bersama gadis-gadis/putri cantik diiringi gondang oleh para musisi tradisonal handal. Berada disebuah kompleks perumahan Batak, 300 m dari Pelabuhan Pariwisata atau Pelabuhan Ferry Tomok. Menuju lokasi terdapat toko- toko Souvenir khas Batak Samosir.

25. Batu Persidangan ( Siallagan Court Stone) dan Batu Parhapuran. Terdapat di huta Sialagan, dikelilingi tembok batu setinggi 1,5 m. Berada di pinggiran Danau Toba, 1 km dari Ambarita Ibu kota Kecamatan Simanindo. Merupakan tempat bersejarah, tempat Raja Siallagan zaman dahulu mengadili para penjahat.
Disebut Batu persidangan karena terdiri dari banyak kursi yang terbuat dari batu- batu besar.Di sudut kampung/huta terdapat patung kuno yg menunjukkan kebesaran kerajaan Sialagan. Didalam huta ini terdapat rumah adat Batak kuno dan museum peralatan rumah tangga zaman dulu.
26.Kuburan Tua, Lesung, Pagar Batu dan Bontean (tambatan solu/kano) di Desa Lontung. Terdapat di perkampungan Raja- raja zaman dahulu yang diperkirakan 300 th silam, dipagari Batu-batu besar (Pasir Debata). Lesung memiliki cucuk pengikat, yang pada zaman duhulu diterbangkan dalam suatu persaingan antar Raja. Bontean adalah tambatan solu/kapal zaman dulu.
28. Huta Gok Asi, sebuah tempat atraksi budaya suku Batak di Simanindo. Dari lokasi terlihat Pulo Tao sebuah Rest Area/tempat beristirahat dan Hotel yang indah di tengah Danau Toba.
29. Liang Sipogu, sebuah gua-lobang besar menjorok kedalam tanah di desa Sangkal, dibawah jalan lintas Ambarita-Simanindo, adalah tempat para ibu-ibu dan anak gadis menganyam tikar; lobang ini panjang ke dalam sekitar 10 meter dan lebar 5 meter dengan pintu masuk mengarah ke pantai Danau.
30. Tuk-tuk Siadong, adalah tanjung, saat ini merupakan ressort yang dipenuhi Hotel dan Wisma serta para seniman pengukir dan pelukis khas suku Batak, sekitar 5 km dari kota Ambarita. Dapat ditempuh dengan kapal 40 menit dari Parapat dan Tiga Raja. Di Resort ini tersedia fasilitas yang dibutuhkan wisatawan seperti internet, entertainment dan berbagai menu makanan khas, nasional dan internasional; fasilitas open stage dan gedung kesenian untuk kegiatan seni-budaya dan olahraga;
31. Souvenir shop, tempat penjualan hasil kerajinan rakyat yang bernuansa budaya dan dijadikan sebagai souvenir juga terdapat di kawasan wisata Tomok, Tuktuksiadong, Ambarita.

II. POTENSI AGRIBISNIS

1 Kawasan Danau Sidihoni dan Kec. Ronggurnihuta terhampar perkebunan kopi rakyat, dan tanaman hortikultura serta buah-buahan
2 Kawasan Aek Natonang di Kec.Simanindo, kawasan Aek Tawar di Ronggurnihuta, terdapat tanaman perkebunan rakyat dan kehutanan, perikanan/peternakan.
3 Kawasan Partukonaginjang dan Tele untuk areal kebun bunga, dan kawasan Kebun Raya di Tomok Kec.Simanindo. 4 Kawasan Tamba, Sihotang, Sianjurmula-mula, Palipi yang merupakan lumbung pangan di Kabupaten Samosir.

III.POTENSI ALAM/LINGKUNGAN

1 Kawasan Pusuk Buhit di Sigulatti (perkampungan Batak pertama), Sitao-tao dan Sijamburnabolak, merupakan tempat yang strategis untuk menikmati panorama/ pemandangan alam ke arah Danau Toba, Pulau Samosir dan kawasan lembah Sianjurmula-mula. Hamparan Danau Toba yang terluas ke arah Tongging dapat dilihat dari tempat ini. Direncanakan di kawasan ini dibangun Garden of Prayer.
2 Menara Pandang Tele, 2 km dari jalan raya simpang Tele menuju Ibu Kota Kabupaten Samosir Pangururan atau 22 km dari Pangururan menuju Jalan Raya Tele, merupakan satu-satunya akses jalan darat menuju Kabupaten Samosir.
3 Partukko Naginjang, tempat untuk menikmati panorama alam Danau Toba dan Samosir yang indah, lokasinya tidak jauh dari Tele.
4 Pemandian Air Panas (Aek Rangat) bercampur belerang di Kelurahan Siogung-ogung 2,5 km dari kota Pangururan, dikaki Pusuk Buhit dan dipinggiran Danau Toba.
5 Pantai Pasir Putih Parbaba, 200 meter ke arah danau dari jalan lingkar Samosir, merupakan tempat rekreasi yang indah dan nyaman, tempat berenang, dan bermain-main bagi anak-anak; pantai yang landai hingga 50 meter ke danau;
6 Air Terjun Sampuran Efrata, desa Sosor Dolok, air terjun setinggi 26 meter dan lebar 10 m. Berada 3 km dari Kota Harian. Sumber air dari dalam bukit, jernih bisa langsung diminum, dingin dan sejuk.
7 Danau Sidihoni, sebuah danau di atas Danau Toba, 8 km ke arah Timur dari Ibu kota Pangururan. Konon warna airnya dapat berubah- ubah dan kering sebagai pertanda akan terjadi sesuatu.
8 Pemandian Air Panas Simbolon (aek rangat), di desa Simbolon, di pinggiran Danau Toba, 12 km dari Ibu Kota Pangururan. Di lokasi pengunjung dapat menyaksikan asap/uap panas berbau belerang yang keluar dari perut bumi.
9. Pantai Sierra Beach Simbolon, di desa simbolon. Pantai ini dekat dengan pancur pemandian air panas sigaung-gaung sekitar 1 km dari pemandian airpanas pada poin 8. Pantai ini cocok untuk tempat bersantai karena lokasinya sepi menikmati danau toba dan view yang indah kearah Sihotang. Pantai ini juga cocok buat yang hobbi mancing terdapat lokasi pemancingan yang banyak ikan ditempat ini.

10. Lagundi Sitamiang, sebuah resort/wisma untuk perkemahan remaja. Disekitar terdapat pemandian alam dan pondok, camping ground, menghadap Danau Toba .
11 Tambun Sukkean, tempat pemandian alam dan panorama Danau Toba di Desa Tambun Sukkean. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini belum memadai.
12 Pohon Besar (Hariara Bolon), disebut sebagai pohon terbesar di dunia, terbentuk dari beberapa pohon menyatu menjadi satu. Banyak dikunjungi Tourist dari manca negara terutama Korea dan Jepang.
13 Aek Natonang, di Desa Tanjungan, 18 km dari Tomok, pada ketinggian 1.000 m dpl. Sebuah danau di atas Danau Toba, dikelilingi Hutan dan pepohonan. Direncanakan sebagai Hutan Wisata, dengan luas 105 ha. 1 km dari lokasi ini terdapat Panatapan, suatu dataran yang merupakan tempat memandang Danau Toba, yang sangat indah menawan.
14 Pantai Bebas Sukkean, Danau Toba, dengan pantai pasir putih, penuh batu – batu putih. Dapat digunakan mandi, berjemur menyaksikan keindahan Danau Toba. Dapat ditempuh 2 jam dari Pangururan lewat Jalan Raya atau 30 menit dari Tomok ke arah Lagundi. Dari Sukkean, ke Pohon Besar hanya jarak 1 km.
15 Pantai Pasir Putih, di desa Marria Raja dengan pasirnya yang putih di tepi Danau Toba. Berada sekitar 3 km dari Kota Nainggolan. Pantai Pasir Putih digunakan untuk wisata mandi alami dengan air Danau Toba yang jernih dan dingin.
16 Gua Marlangkop di desa Tanjungan,
IV. POTENSI OLAH RAGA

1 Partukko Naginjang berada di jalan lintas Sidikalang-Doloksanggul, layak untuk tempat kegiatan olahraga terbang layang (gantole, paralayang) dan Janji Martahan sebagai tempat mendarat peterbang layang dari Partukko Naginjang. Panoramanya indah dan hawa sejuk.
2 Danau Sidihoni, sebuah danau di atas Danau Toba, 8 km ke arah Timur dari Ibu kota Pangururan, dapat digunakan untuk lomba layar atau olah raga lainnya. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini sudah memadai.
3 Perairan Bebas Ambarita, di Pantai Ambarita. Tempat pemandian dan memancing, olah raga layar. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini cukup memadai.
4 Danau Toba di kawasan Tuktuk-Tomok; tempat olah raga renang, menyelam dan berlayar, sangat strategis karena berada di kawasan teluk/tanjung.
5 Pantai Pasir Putih Parbaba, tempat olahraga volly pantai, renang, dayung dan tempat hiburan/permainan anak-anak.
6 Bukit Siulakhosa, tempat olahraga gantole dan paralayang, terbang mengelilingi kawasan Tomok dan Tuktuksiadong dan mendarat di Bukit Betha atau pantai Danau Toba.
7 Kawasan Bukit Betha dan Open Stage Tuktuksiadong serta kawasan Ambarita untuk olah raga Atletik, Sepeda, Motor Cross, dan sebagainya.
8 Olahraga yang diminati secara lokal antara lain : catur, renang, menyelam, dayung, bolakaki, bola volly, atletik dan beberapa olahraga tradisional seperti Margala, Engrang, Lari/jalan lintas alam.

V. LEGENDA-LEGENDA

1 LEGENDA PUSUK BUHIT
2 LEGENDA SIRAJA BATAK
3 LEGENDA DANAU TOBA-SAMOSIR
4 LEGENDA AEK SIPITU DAI
5 LEGENDA BATU SAWAN
6 LEGENDA DATU PARNGONGO
7 LEGENDA SIPISO SOMALIM
8 LEGENDA PARHUDAMDAM
9 LEGENDA SI BORU SARODING
10 LEGENDA NAN TINJO
11 LEGENDA SI BORU PAREME
12 LEGENDA BATU PARHUSIPAN
13 LEGENDA BATU PARGASIPAN
14 LEGENDA SI RAJA LONTUNG
15 LEGENDA PAROMASAN
16 LEGENDA BATU MARTINDI
17 LEGENDA BATU RANTE
18 LEGENDA BATU GURU
19 LEGENDA TAO SILALAHI
20 LEGENDA TUKTUKSIADONG (TUKTUK SIASU)
21 LEGENDA RUMAH ADAT BINANGA ARA
22 LEGENDA LIANG SIPOGU di sangkal
23 LEGENDA RAJA SIDABUTAR
24 LEGENDA BATU PERSIDANGAN
25 LEGENDA PULO TAO/PULO MALAU
26 LEGENDA PULO TULAS
27 LEGENDA PULO TOLPING
28 LEGENDA TAO SIDIHONI
29 legenda liang onanrunggu
30 legenda na martua si oma di silima lombu
31 legenda silengge di ambarita.

Sumber : http://news.tobaonline.com

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 2 Comments

Keturunan atau anak dari Raja Nai Ambaton

Ada 5 anak laki dan 1 perempuan keturunan ompung ini:

1. Simbolon Tua

2. Tamba Tua

3. Saragi Tua

4. Munte Tua

5. Nahampun

6. Uli Bulung (boru).

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA

Di hamu sude pinomparhu na mamungka huta di desa naualu di Tano Sumba, di na manjujung baringin ni Raja Harajaon ni Raja Isumbaon. Partomuan ni aek Partomuan ni Hosa. Mula ni jolma tubu, mula ni jolma sorang. Asa tonahonon ma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut. Asa sisada anak, sisada boru…. Hamu sisada lungun, sisada siriaon, naunang, natongka, na so jadi masibuatan hamu di pinompar muna manjujung goarhu Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon. Asa ise hamu di pomparanhu namangalaosi tonangkon, tu hauma i sitabaon, tu tao ma i sinongnongon, tu harangan mai situtungon. Sai horas horas ma hamu sude pinomparhu di namangoloi podangki.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 5 Comments

Riwayat Singkat Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII

Dari catatan Keluarga Sisingamangaraja dalam rangka peringatan 100 tahun perjuangan raja Sisingamangaraja XII

Raja Si Singamangaraja XII lahir di Bakara ditepian Danau Toba sebelah Selatan pada tahun 1848. Saat ini Bakara merupakan suatu kecamatan dalam Kabupaten Humbang Hasundutan. Nama kecilnya adalah Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu. Sebagaimana leluhurnya, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan dari pendahulunya secara turun temurun. Ketika Patuan Bosar dinobatkan menjadi Raja Si Singamangaraja XII pada tahun 1871, waktu itu umurnya baru 22 tahun dalam usia yang masih muda.

 

Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Si Singamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang �terbeang� atau ditawan, harus dilepaskan. Sebagaimana dengan Raja Si Singamangaraja I sampai XI, beliau juga merupakan seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan yang memang masih lazim masa itu. Jika beliau pergi ke satu desa (huta), beliau selalu meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang hendak diperjualbelikan dan diperbudak.

Dia seorang pejuang sejati, yang anti penjajahan dan perbudakan. Pejuang yang tidak mau berkompromi dengan penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. Ia memilih lebih baik mati daripada tunduk pada penjajah. Ia kesatria yang tidak mau mengkhianati bangsa sendiri demi kekuasaan. Ia berjuang sampai akhir hayat. Perjuangannya untuk memerdekakan ‘manusia bermata hitam’ dari penindasan penjajahan si mata putih (sibontar mata), tidak terbatas pada orang Tapanuli (Batak) saja, tetapi diartikan secara luas dalam rangka nasional. Semua orang yang bermata hitam dianggapnya saudara dan harus dibela dari penjajahan si mata putih (sibontar mata). Dia merasa dekat dengan siapa saja yang tidak melakukan penindasan, tanpa membedakan asal-usul. Maka ia pun mengangkat panglimanya yang berasal dari Aceh.
Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII melawan Belanda

Dapat dipadamkannya “Perang Paderi” melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.
Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’. Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Si Singamangaraja XII yang masih muda. Sebenarnya berita tentang masksud Belanda untuk menguasai seluruh Sumatera ini sudah diperkirakan oleh kerajaan Batak yang masa itu masih dipimpin oleh Raja Si Singamangaraja XI yaitu Ompu Sohahuaon. Sebagai bukti untuk ini, salah satu putrinya diberi nama Nai Barita Hulanda.

Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Si Singamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda. Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings� Besluit Tahun 1876″ yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, Raja Si Singamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain. Raja Si Singamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :

1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

Terlihat dari peristiwa ini, Raja Si Singamangaraja XII lah yang dengan semangat tinggi, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Raja Si Singamangaraja XII bukan anti agama dan di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dengan suku-suku lainnya.

Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya. Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa. Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Si Singamangaraja XII.

Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, markas besar Raja Si Singamangaraja XII di Tangga Batu dan Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihambat. Belanda merobah taktik, pada babak berikutnya ia menyerbu ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Raja Si Singamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara. Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Raja Si Singamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Raja Si Singamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Namun Belanda tetap merasa penguasaan tanah Batak berjalan lamban.Untuk mempercepat rencana kolonialisasi ini, Belanda menambah pasukan besar yang didatangkan dari Batavia (Jakarta sekarang) yang mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan. Raja Si Singamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Pasukan Raja Si Singamangaraja XII juga dikerahkan berupa kekuatan laut dari Danau Toba yang menyertakan pasukan sebanyak 800 orang dengan menggunakan 20 solu bolon. Pertempuran besar pun terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Raja Si Singamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Si Singamangaraja XII. Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Raja Si Singamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Raja Si Singamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Raja Si Singamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Raja Si Singamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki �Si Gurbak Ulu Na Birong�. Tetapi pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Raja Si Singamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Si Singamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.

Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil menguasai Aceh sehingga pada tahun 1890 pasukan khusus Marsose yang tadinya ditempatkan di Aceh, dikerahkan untuk menyerang Raja Si Singamangaraja XII di daerah Parlilitan. Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah dia dan keluarga serta pasukannya menyingkir ke Dairi.
Raja Si Singamangaraja XII melanjutkan peperangan secara berpindah-pindah di daerah Parlilitan selama kurang lebih 22 tahun, disetiap persinggahaannya Beliau selalu memberikan pembinaan pertanian, adat istiadat (hukum) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga menimbulkan kesetiaan dan dukungan rakyat untuk berjuang.walaupun banyak di antara penduduk yang mendapat siksaan dan pukulan dengan rotan dan bahkan sampai terbunuh, karena tidak mau bekerja-sama dengan Belanda. Termasuk untuk menunjukkan tempat pasukan dan Raja Si Singamangaraja XII berada.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII di Dairi ini merupakan gabungan dari suku Batak dan suku Aceh. Pasukan ini dipimpin oleh putranya Patuan Nagari. Panglima-panglima dari suku Batak Toba antara lain, Manase Simorangkir dari Silindung, Rior Purba dari Bakara, Aman Tobok Sinaga dari Uruk Sangkalan dan Ama Ransap Tinambunan dari Peabalane. Dari suku Aceh antara lain Teuku Sagala, Teuku Nyak Bantal, Teuku Nyak Ben,Teuku Mat Sabang, Teuku Nyak Umar, Teuku Nyak Imun, Teuku Idris. Sedang dari rakyat Parlilitan antara lain: Pulambak Berutu, Tepi Meha, Cangkan Meha, Pak Botik Meha, Pak Nungkun Tinambunan, Nangkih Tinambunan, Pak Leto Mungkur, Pak Kuso Sihotang, Tarluga Sihombing dan Koras Tamba.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII ini dilatih di suatu gua yang bernama Gua Batu Loting dan Liang Ramba di Simaninggir. Gua ini berupa liang yang terjadi secara alamiah dengan air sungai di bawah tanah. Tinggi gua sekitar 20 meter dan mempunyai cabang-cabang yang bertingkat-tingkat. Sirkulasi udara di dalam gua cukup baik karena terbuka ke tiga arah, dua sebagai akses keluar masuk dan satu menuju ke arah air terjun. Jarak dari pintu masuk ke air terjun didalam gua lebih dari 250 meter. Dengan demikian, di dalam gua ini dimungkinkan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari bagi seluruh pasukan yang dilatih tanpa harus keluar dari gua.

Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya pendekatan (diplomasi) dengan menawarkan Raja Si Singamangaraja XII sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Namun Raja Si Singamangaraja XII menolak tawaran tersebut. Sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin diaktifkan.
Setelah melalui pengepungan yang ketat selama tiga tahun, akhirnya markasnya diketahui oleh serdadu Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa tragis pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya menyerah dan akan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun pahlawan yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah ini lebih memilih lebih baik mati daripada menyerah.

Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Raja Si Singamangaraja XII. Pertahanan Raja Si Singamangaraja XII diserang dari tiga jurusan. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak diungsikan secara berkelompok-kelompok, namun kemudian mereka tertangkap oleh Belanda.
Tanggal 17 Juni 1907, di pinggir bukit Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Raja Si Singamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Raja Si Singamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya. Dalam peristiwa ini juga turut gugur banyak pengikut dan beberapa panglimanya termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga berprinsip pantang menyerah. Pengikut-pengikutnya yang lain berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Raja Si Singamangaraja XII yang masih hidup dihina dan dinista, dan kemudian ditawan di internering Pearaja Tarutung. Semua mereka merupakan korban perjuangan.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu memang telah mengakibatkan korban yang begitu banyak bagi rakyat termasuk keluarga Raja Si Singamangaraja XII sendiri. Walaupun Raja Si Singamangaraja XII telah wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang di tanah Batak berakhir, sebab sesudahnya terbukti masih banyak perlawanan dilakukan oleh rakyat Tapanuli khususnya pengikut dari Raja Si Singamangaraja XII sendiri.

Jenazah Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dibawa dan dikuburkan Belanda di tangsi Tarutung. Pada Tahun 1953, Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dimakamkan kembali di Makam Pahlawan Nasional Soposurung Balige yang dibangun oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga. Digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tertanggal 19 Nopember 1961.

Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Si Singamangaraja XII selama selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara. Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Raja Si Singamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda. Raja Si Singamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi. Hal ini menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan di hati rakyat.

Sumber: Tanobatak.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Benda benda peninggalan masyarakat Batak

  1. HOMBUNG : Peninggalan lama, dibuat dari kayu pinasa, diukir motif gorga Batara Siang. Dipakai untuk tempat harta don barang pusaka lainnya. Hombung ini juga berfungsi sebagai dipan untuk tempat tidur pemiliknya (Kepala rumah tangga).
  2. RUMBI :Bahan dari batang pohon nangka, digunakan untuk tempat harta dan barang pusaka.
  3. SAPA  : Sejenis pinggan dari kayu nangka tempat nasi untuk makan bersama (sekeluarga). Istilah Sapa-nganan adalah identifikasi dari keadaan makan bersama dari Sapa, artinya Sapanganan identik dengan kaum kerabat, keluarga dekat.
  4. POTING : Bahannya dari bambu, tali ijuk don rompu hotang digunakan untuk tempat mengambil air dari sumber air untuk persediaan air di rumah.
  5. TABU-TABU : Bahan dari buah labu tutupnya dibuat dari kayu bentuk patung, dulu digunakan untuk tempat air minum dan dewasa ini banyak digunakan sebaqai hiasan.
  6. HUDON TANO    : Periuk dari tanah liat yang digunakan untuk memasak ikan dan sayuran.
  7. PARRASAN :Bahan dari baion logen (sejenis pandan) dianyam, digunakan untuk tempat beras.
  8. HADANG HADANGAN (1) : Sejenis tas tangan tempat belanjaan atau barang barang bawaan waktu berpergian. Bahannya dibuat dari baion (login) dianyam secara khusus diberi bertali sehingga praktis untuk di bawa-bawa.
  9. HADANG HADANGAN (2) : Serupa dengan di atas tetapi lebih kecil, digunakan untuk tempat garam.
  10. HAJUT PARDEMBANAN : Dibuat dari daun pandan, dianyam sedemikian indah untuk tempat sirih dan kelengkapannya. biasanya digunakan oleh kaum ibu.
  11. HAJUT-HAJUT : Hajut Pardembanan motif lain dibuat dari daun Pandan Simata dan Kain merah. Berasal dari daerah Angkola.
  12. TEMPAT TEMBAKAU       : terbuat dari kayu yang yang tutupnya diukir.
  13. LEANG (1) : Dibuat dari kuningan dan tembaga, diukir dengan motif khusus Singa-Singa, dipakai sebagai hiasan pelengkap kebesaran. Dipakai pada waktu pesta oleh kaum laki-laki.
  14. LEANG (2) : Bahannya dari kuningan, tembaga dan simbora, dipakai oleh kaum ibu waktu pesta-pesta.
  15. GOLANG : Bahan dari kuningan, diukir ragam hias Singa-Singa dipakai oleh kaum Bapak.
  16. SIBONG SITEPAL : Kerabu Batak, dibuat dari kuningan dan emas batak digunakan sebagai penghias telinga oleh kaum ibu dan bapak.
  17. SIBONG OTTOK-OTTOK : Kerabu batak jenis lain dipakai oleh kaum wanita sebagai perhiasan.
  18. SORTALI (1) : Bahan dibuat dari tembaga, disepuh dengan emas batak ditempelkan paada kain merah, dipakai untuk ikat kepala (Mahkota) laki-laki pada pesta-pesta besar.
  19. SORTALI (2) : Serupa dengan Sortali kaum lelaki, tetapi motif ini khusus untuk wanita.
  20. TAGAN : Tempat barang berharga (barang-barang Mas dan Perak) dibuat dari kayu keras (Pokki). Diukir dalam bentuk dan komposisi yang harmonis.
  21. LAGE-TIAR : Dibuat dari “bayon login” = daun pandan, dianyam dipakai untuk alas/tempat duduk don tempat tidur.

Seni Ukir dan uning-uninganSENI UKIR DAN PATUNG GORGA

  1. ULU PAUNG : Bahan dari hariara pulut digorga dalam tiga warna (merah, putih don hitam). Bentuknya termasuk ornamen Raksasa. Ditempatkan dipuncak wuwungan rumah atau sopo. Ulupaung diyakini sebagai lambang keperkasaan dan perlindungan terhadap seisi rumah, sebagai penjaga setan-setan dari luar kampung.
  2. JENGGAR (1) : Hiasan pada bagian tengah tombonan adap-adop dan halang godang. Diyakini mampu mengusir setan yang mau masuk kedalam rumah. Digorga dalam tiga warna dipakai untuk ruma gorga.
  3. SANTUNG SANTUNG : Hiasan vertikal tergantung di ujung dila paung dihias dengan gorga Gaya Dompak sebagai symbol kebenaran dan tegaknya hukum.
  4. GAJA DOMPAK DORPI JOLO (1) (2) (3) (4) : Ditempatkan pada dinding depan (dorpi jolo) fungsinya untuk mengingatkan manusia terhadap tegaknya hukum.
  5. SINGA-SINGA : Salah satu motif singa-singa sopo gorga dibuat dari kayu hariara pulut diberi warna tiga bolit ditempatkan di dinding depan (dorpi jolo) kiri dan kanan. Diyakini sebagai lambang dari wibawa dan symbol keadilan hukum dan kebenaran (duplikat).
  6. TAGANING (1 – 5) : Disebut juga Saridondon, bahannya dibuat dari kayu, rotan dan kulit kambing dipakai untuk pelengkap ogung sabangunan.
  7. OGUNG PONGGORA : Sihutur tolong bahannya terdiri dari perunggu ditempah bulat, ditengah jendul berisi puli (damar) dipakai untuk pelengkap musik berat (gondang sabangunan).
  8. OGUNG PANGALUSI : Sitapi sindar mata ni ari. Bahannya dan fungsinya sama dengan ogung panggora.
  9. OGUNG DOAL : Serupa dengan diatas, nama lainnya Dori Mangambat.
  10. OGUNG OLOAN : Digunakan untuk pelengkap ogung sabangunan.
  11. SARUNE BOLON : Serunai panjang dibuat dari kayu, dipakai untuk pelengkap musik berat (gondang sabangunan).
  12. GARANTUNG : Bahannya dari kayu ringan dipakai untuk alat musik ringan.
  13. HASAPI  : Bahannya dari kayu ringan talinya dari kawat halus atau riman dipakai alat musik ringan (gondang hasapi) don untuk mengiringi lagu.
  14. SARUNE GETEP : Serunai kecil dipakai untuk mengiringi gondang hasapi dan untuk mengiringi lagu. 
  15. TULILA : Bahannya dari bambu dipakai untuk alat musik hiburan terutama ditempat sunyi.
  16. SIGALE-GALE : Wayang Batak diperbuat dari kayu di ukir berbentuk mausia dilengkapi tali-temali yang dapat menggerak-gerakkan, menari, manortor mengikuti gondang dengan kemahiran seorang dalang untuk memainkannya. Tortor sigale-gale diadakan dalam upacara ritus pada waktu kematian seseorang yang berusia lanjut, tetapi tidak mempunyai keturunan.Dahulu acara tor-tor seperti ini disebut upacara Papurpur Sapata. Dewasa ini tor-tor sigale-gale lebih merupakan acara hiburan.

  Dunia mistis

  1. TUNGGAL PANALUAN: Bahannya dibuat dari kayu tada-tada, diukir berbentuk manusia, cecak, ular, kala jengking dan binatang berbisa lainnya, patung manusia, bagian atas diberi berambut. Tunggal Panaluan disebut Tongkat Sakti, tongkat sihir penolak bala digunakan waktu pesta Satti, Mandudu dan lain lain.
  2. TUNGKOT BALEHAT : Bahan dari kayu tada-tada diukir bentuk patung manusia mengendarai kuda, kadal, ular dan binatang berbisa lainnya. Dipakai untuk tujuan magik oleh para datu.
  3. SAHAN (1) (NAGA MORSARANG) : Bahan dari tanduk kerbau diukir disumbat dengan tutup kayu berukir dipakai untuk tempat obat oleh para datu, motif toba.
  4. SAHAN (2) (SIBIAKSA) : Sahan motif Samosir, fungsinya soma dengan Sahan, motif Toba.
  5. PISO HALASAN (1) : Bahan dibuat dari besi, suhulnya (gagang) dari tanduk Rusa, Sarong dari kayu dilapis dengan kulit ekor kerbau, Dipakai untuk menyembelih kerbau waktu pesta gondang Sarimatua, Piso Halasan juga digunakan sebagai lambang kebesaran bahwa pemiliknya telah pernah mengadakan pesta besar, mangalahat horbo diiringi gondang Sabangunan. Piso Halasan biasanya disandang dan dikepit di lengan kiri dalam pakaian adat lengkap.
  6. PISO HALASAN (2) : Gagangnya dari tanduk, pisau dari besi baja, sarangnya dari kayu dilapis kulit ekor kerbau pada ujung sarong dibuat tanduk berukir. Fungsinya soma dengan Piso Halasan (1).
  7. SAHAN (3) : Sahan kecil dari tanduk kambing diukir disumbat dengan patung kayu, digunakan oleh datu untuk tempat pupuk.
  8. SONDI : Dibuat dari kayu berukir singa-singa ditunggangi oleh manusia badan berbentuk tabung berukir dari tanduk kerbau. Digunakan untuk tempat pupuk oleh datu.
  9. GUCI PARPAGARAN : Bahan dibuat dari keramik baker dibuat tempat pagar pelindung keluarga dari marabahaya.
  10. HAJO: Guci dibuat dari bahan keramik (tembikar) dipakai sebagai tempat air atau tuak
  11. PATUNG DEBATA IDUP LAKI-LAKI (1) : Duplikat, bahan dibuat dari kayu nangka. Dahulu patung jenis ini sengaja dibuat sebagai perwujutan dari Debata idup (Mulajadi Nabolon silehon hangoluan) dianggap sebagai pelindung bagi kelompok atau marga pembuatnya. Dewasa ini patung jenis ini juga tetap dibuat namun telah berobah fungsi menjadi sejenis hiasan.
  12. PATUNG DEBATA IDUP PEREMPUAN (2) : Duplikat, pasangan dari patung Debata Idup Laki-laki.
  13. PATUNG DEBATA IDUP (3) : Motif lain dari patung Debata idup.
  14. PATUNG AJIDONDA SILINDUAT : Jenis lain dari patung Debata idup Dua buah, patung laki-laki dan wanita dirangkai menjadi satu digunakan untuk upacara magic.
  15. PATUNG SIHARHARI : Terdiri dari dua buah patung kayu laki-laki dan perempuan dirangkai menjadi satu digunakan dalam upacara magic.
  16. TIGA BOLIT : Dibuat dari kain berwarna merah putih dan hitam, dipilin menjadi satu. Dipakai oleh datu sebagai tali-tali.
  17. BONANG MANALU : Bahannya dari benang merah putih dan hitam, biasanya dipergunakan sebagai jimat setelah diberi mantera oleh datu (dukun).
  18. GURI-GURI SIBOANON : Bahan dari porselen digunakan te mpat pagar / Mascot untuk dibawa-bawa.
  19. GURI-GURI TAOR (1) : Bahan dari porselen dipakai untuk tempat taor didalam rumah.
  20. GURI-GURI PARMIAHAN : Guri-Guri tempat pupuk.
  21. PATUNG SITOLU : Bahan dibuat dari kayu dipahat berbentuk tiga manusia menyatu, kemungkinan merupakan gambaran dari tri tunggal mulajadi.
  22. PATUNG SIDUA SAIHOT : Patung kayu dirangkai dengan tali ijuk kemungkinan adalah motif lain dari Debata idup.
  23. BULU SONDI : Jenis lain dari tabung bambu tempat ramuan obat-obatan.
  24. SALUNG : Dibuat dari bambu dipakai untuk tempat minum ramuan obat-obatan.
  25. TOPENG (1) : Bahannya dari kayu dipakai waktu tari topeng ketika pesta turun.
  26. SONDI TANDUK : Bahannya dari tanduk dan kayu diukir dan dipahat bentuk patung manusia mengendarai hoda-hoda. Dipakai untuk tempat pupuk.
  27. SONDI TANDUK : Bahan dari tanduk rusa berukir tutupnya dari kayu dipahat bentuk patung hoda-hoda, digunakan sebagai tempat pupuk.
  28. POHUNG (1) : Bahannya dari batu, dipahat bentuk manusia Digunakan sebagai patung penjaga kebon setelah diisikan pupuk kedalamnya
  29. PANGULU BALANG : Patung batu digunakan sebagai penjaga kampung dari niat jahat orang lain, biasanya ditempatkan di benteng (parik ni huta).
  30. PATUNG HODA-HODA : Bahannya dari kayu keras, dahulu dibuat sebagai lambang kenderaan kayangan, tunggangan nenek moyang menuju kayangan. Dewasa ini juga dibuat para seniman tetapi fungsinya telah berubah dari tujuan mistik ke tujuan Dekorasi (hiasan).

  Koleksi parbinotoan ( ilmu pengetahuan)

  1. PUSTAHA :Duplikat dibuat dari kulit kayu ulim (laklak) bertuliskan aksara Batak berisi ilmu pengetahuan, kalender, mantera dan lain-lain.
  2. PORHALAAN (1) :Kalender Batak, dari bambu (bambu suraton) Ditulis dalam aksara Batak dilengkapi dengan gambar-gambar symbol dari peredaran bulan, digunakan untuk meramalkan hari baik untuk pelaksanaan pesta adat, langkah rejeki dan sebagainya.
  3. PARHALAAN (2) :Bahan dari bambu, diberi bertutup dari kayu diukir berbentuk patung hoda-hoda. Tabung bambu sekaligus tempat pagar (penangkal) fungsi lain sama dengan Porhalaan (1).
  4. PARHALAAN (3) :Fungsinya sama dengan Porhalaan (2), bahannya dibuat dari tulang kering hewan diberi tutup dari kayu berukir.
  5. BULU PARHALAAN (TONDUNG SAHALA) :Bahannya dari kerat bambu lepas, disusun sedemikian rupa digunakan untuk meramal hari baik.
  6. BULU PARTONAAN :Bahan dari seruas bambu kecil, bertutup bambu, digunakan untuk mengirim surat atau pesan penting.
  7. GARUNG-GARUNG SONDI :Tempat menyimpan surat-surat penting, mantera-mantera don lain lain, dibuat dari seruas bamboo besar berukir halus tutupnya artistik.
  8. RUJI-RUJI BINDU MATOGA :Kalender batak dibuat dari tulang rusuk hewan digunakan oleh datu untuk meramal sesuatu.

Alat menangkap ikan

  1. SOLU JAMBANG :Sampan jenis lain yang lebih besar dari solu lunjup, biasanya dipakai di air yang tidak mengalir (di danau), fungsinya sama dengan solu lunjup dapat dipakai untuk mengangkut dua orang sekaligus.
  2. HOLE :Bahannya dari kayu dipakai untuk alat dayung.
  3. GOLI-GOLI :Dibuat dari kayu (papan) dipakai untuk tempat duduk di dalam sampan.
  4. TAHU-TAHU :Bahannya dari bambu, dipakai untuk membuang air yang masuk kedalam sampan.
  5. BUBU TIRI-TIRI :Bahannya dari bambu digunakan menangkap ikan tiri-tiri (ikan kecil semacam ikon teri).
  6. BUBU JAHIR :Bahannya dari lidi ijuk dan tali riman, digunakan menangkap ikon jahir, pora-pora, undalap don lain-lain.
  7. BUBU IHAN :Bahannya dari lidi ijuk (Tarugit) bentuknya lebih besar, digunakan untuk menangkap ikan yang besar-besar seperti ikan mas, ihan dll.
  8. HERENGAN :Dibuat dari tarugit digunakan untuk menyimpan ikan tangkapan di dalam air agar tetap hidup sebelum dibawa pulang ke darat.
  9. HIRANG-HIRANG (1) :Bahan dari bambu, dianyam digunakan untuk tempat ikan tangkapan terutama jenis ikan-ikan besar.
  10. HIRANG-HIRANG (2) :Bahan dari bambu, dianyam diberi bertali dari tali ijuk digunakan untuk tempat ikan tangkapan direndam dalam air agar ikan tetap hidup.
  11. HIRANG-HIRANG (3) :Bahan dari rotan dianyam berbentuk bulat, digunakan untuk tempat ikan tangkapan” biasanya digantung diikat pinggang.

Alat senjata dan berburu

  1. ULTOP : Bahan dari bambu, peluru dari biji-bijian, biasa dipakai untuk perang-perangan oleh anak-anak muda sebagai senjata, peluru ultop ini biasanya dibubuhi racun.
  2. PULUR : Peluru anak panah dibuat dari tanah liat dikeringkan setelah dibubuhi racun (untuk perang).
  3. PANA :Duplikat busur panah dengan peluru (anak panah) dari bambu atau pakko.
  4. SIOR :Anak panah terbuat dari bambu
  5. HUJUR (1) :dibuat dari besi kuningan dan gagang kayu pakko, dipakai alat berperang. Hujur, dewasa ini juga dipakai untuk berburu.
  6. PARANG :Alat senjata sejenis golok dibuat dari besi.
  7. PALAIT :Jenis lain dari Tombak dipakai sebagai alat senjata dan alat berburu.
  8. HUJUR BULU :Bahannya dari bambu poso pada ujung bagian pangkad diruncingi digunakan untuk menombak (berburu) binatang.

Alat – alat dapur

  1. DALIHAN : Tungku, dibuat dari tanah liat, dibentuk bulat setengah bola. Digunakan untuk landasan periuk tanah dan alat memasak lainnya. Tungku atau dalihan ini biasanya harus tiga buah untuk satu tempat masak dan lima buah untuk dua tempat masak.
  2. LOTING : Bahan terdiri dari besi, batu loting tanduk tempat luluk dari luluk dari pohon enau. Dipakai untuk menyalakan api.
  3. HUDON PANGALOMPAAN : Periuk tempat masak nasi, merebus air minum dibuat dari bahan tanah liat.
  4. SUSUBAN : Periuk tanah bentuk lain tempat memasak ikan.
  5. HADANG-HADANGAN : Bahan dari baion, diayam don diberi bertali, dipakai untuk tempat garam, cabe dan lain se-bagainya (rempah-rempah).
  6. GEANG-GEANG : Dibuat dari anyaman rotan, digunakan untuk tempat ikan ataupun Susuban berisi ikan. Biasanya digantung di dapur agar ikannya aman dari intaian kucing.
  7. SONDUK SEAK : Bahan dibuat dari bambu, tempurung dan rotan fungsinya soma dengan sendok bambu.
  8. SEAK-SEAK BORHU : Bahan dari tempurung kelapa dasar dan tutupnya dibuat bertali (dirompu) digunakan sebagai tempat garam.
  9. POTING : Dibuat dari bambu, diberi tali dipakai untuk mengambil air dari sumber air.
  10. LAGE-LAGE : Tikar kecil dari baion dipakai sebagai tempat duduk didapur untuk tempat makan.
  11. Sambilu “Kulit bambu tipis” : Alat yang  digunakan oleh sibaso (Bidan) memotong tali pusat anak yang baru lahir.
  12. PAPENE : Bahan dari kayu keras, digunakan untuk menggiling bumbu masak.
  13. PANUTUAN : Serupa dengan papene tapi lebih besar.
  14. TUTU : Alat menggiling bumbu, terbuat dari batu.
  15. LOSUNG : Terbuat dari kayu dipakai untuk menumbuk sayur-sayuran.
  16. ANDALU : Alat penumbuk (Antan), sebagai pasangan lesung dibuat dari kayu bulat dan keras.
  17. SAPA (2) : Pinggan tempat makanan sekeluarga, dibuat dari kayu nangka bentuk berkaki.
  18. PARANG : Bahan dari besi dipakai untuk pisau dapur.

Alat tenun dan tradisional

  1. BUSUR HAPAS : Dibuat dari bambu berbentuk busur panah (Sumbia) Digunakan untuk membusur kapas, mengembangkan dalam kondisi merata agar mudah dijadikan benang dengan sorha.
  2. SORHA TANGAN : Bahan terbuat dari kayu, papan dan besi (Kawat). Digunakan untuk memintal benang dari kapas. Roda pemintal degerakkan dengan tangan.
  3. SORHA PAT (1) : Bahan dari kayu, papan dan besi digunakan untuk memintal’ benang dari kapas, Roda pemintal digerakkan dengan kaki. Dipakai pada jaman pendudukan Tentara Jepang di Tapanuli.
  4. SORHA PAT (2) : Motif lain dari Sorha. Banyak digunakan pada jaman pendudukan tentara Jepang di Tapanuli Utara (Tanah Batak).
  5. PANGUNGGASAN : Dibuat dari bambu, fungsinya untuk menegangkan memadatkan benang. Diolesi dengan campuran air tajin dan nasi lembek.
  6. UNGGAS : Bahan- terbuat dari ijuk digunakan untuk mengoleskan kanji (air tajin dan. nasi lembek) untuk menegangkan benang.
  7. SOSA : Alat membuat gatip-gatip pada motif ulos. Bahan terdiri dari Seak-seak (tempurung kelapa) bahan pewarna dan bulu ayam.
  8. ANIAN : Bahan dari kayu jion dan pakko, digunakan untuk merakit benang sebelum ditenun.
  9. TUNDALAN (PAMUNGGUNG) : Bahan dari kayu nangka dipakai untuk sandaran pinggul waktu bertenun.
  10. TALI PAPAUT : Bahan dari tali ijuk dipakai waktu bertenun, fungsinya untuk menghubungkan panunggung de-ngan Pagabe.
  11. PAGABE : Bahannya dari pakko, digunakan menjepit benang tenun sekaligus pemegang benang.
  12. BALIGA : Bahan dari pelepah daun enau (hodong) digunakan untuk memapatkan benang tenunan.
  13. TURAK : Bahannya dibuat dari bambu dipakai untuk menghantar benang sirat kain tenunan.
  14. HASOLI : Dibuat dari lidi, digunakan untuk gulungan benang sirat didalam turak.
  15. SOKKAR : Bahannya dari kulit hodong (ruyung) kedua ujungnya dibuat runcing, digunakan untuk menegangkan benang guna mengatur pola tenunan.
  16. HATULUNGAN : Bahan dari kayu, digunakan untuk pemisah benang tenun, mengatur pola dan baris-baris benang.
  17. HAPULOTAN : Bahan dari kayu, fungsinya untuk mengatur benang tenun supaya tidak simpang siur.
  18. BALOBAS : Bahannya dari ruyung, digunakan untuk merapikan benang yang akan ditenun.
  19. LILI : Dibuat dari ruyung, digunakan untuk mengatur corak warna kain tenunan.
  20. PAMAPAN : Bahannya dari ruyung, digunakan untuk gantyungan benang yang ditenun.
  21. SITADOAN : Bahan dari kayu, digunakan untuk landasan kaki waktu bertenun.
  22. BALIGA SIRAT : Bahan dibuat dari pakko, digunakan untuk merapatkan (memapatkan) benang pada ujung kain ulos yang telah siap ditenun bersisikan rambu.

ALAT-ALAT PERTANIAN

  1. ANSUAN : Bahan dari batang pohon enau (pakko) dipakai untuk mengolah tanah sawah pada tahap permulaan (sebagai cangkol).
  2. ORDANG : Bahan terbuat dari pakko, digunakan untuk alat melobong tanah untuk tempat benih padi ditanami, biasanya di lahan kering dengan tanah keras.
  3. PANASAPI : Gagang dibuat dari pakko mata dari tulang sasap (belikat) kerbau, dipakai untuk membersihkan dan meluruskan pematang sawah.
  4. PANGALI :Gagang dibuat dari kayu mata dari besi, dipakai untuk menggali tanah disamping fungsi lain seperti Panasapi.
  5. SORHA-SORHA : Bahannya dari pakko, kayu, dipakai untuk perlengkapan membajak sawah jika menggunakan seekor kerbau.
  6. AUGA : Bahannya dari kayu dan pakko, perlengkapan membajak sawah dengan menggunakan duo ekor kerbau.
  7. NINGGALA : Dibuat dari kayu jior dan pakko, dipakai alat membajak/ menggemburkan tanah ditarik oleh kerbau.
  8. SISIR : Dibuat dari kayu, pakko dan bambu, digunakan untuk menggemburkan tanah dalam proses lanjutan setelah siap dibajak.
  9. TOPPI : Bahan dibuat dari Rotan, dianyam digunakan untuk mengikat leher kerbau waktu membajak/ menyisir sawah.
  10. HUNDALI :Terbuat dari kulit kerbau biasanya dari bagian leher. Digunakan untuk mengikat Ninggala/Sisir dengan sorha atau auga waktu membajak sawah.
  11. TEAL-TEAL : Bahan dibuat dari pakko dan kayu digunakan untuk kendali kerbau waktu membajak.
  12. BATAHI (1) : Dibuat dari bambu digunakan sebagai cambuk pemukul kerbau.
  13. GAIR-GAIR SITOLU RAJA : Gair-Gair bermata tiga dibuat dari pakko dilengkapi dengan mata besi, digunakan untuk menggemburkan tanah.
  14. TALI HOTANG : Bahan dari ijuk pada kedua ujungnya terdapat duo buah tuhe dari bambu digunakan untuk menentukan atau meluruskan pematang sawah.
  15. ROGO PANDABUI : Tangkainya dibuat dari pakko, dan matanya dari kayu untuk meratakan permukaan sebelum ditanami bibit padi.
  16. GURIS :Terbuat dari kayu dan besi dipakai untuk menyiangi sawah.
  17. HARANG :Sejenis keranjang dibuat dari kulit bambu, digunakan untuk tempat membawa abu dapur atau-pupuk kandang ke sawah untuk memupuk tanaman.
  18. HIRANG : Serupa dengan Harang tapi lebih kecil, biasanya dibawa sekaligus dua buah dengan memakai pikulan atau Hallungan.
  19. OTAM SAMBILU :Terbuat dari kulit bambu (Sembilu) dipakai untuk alat menuai padi, alat ini tidak dipakai lagi dewasa ini.
  20. SASABI RAHAT : Bahan dibuat dari besi dengan gagang dari kayu  tidak dapat dilipat.
  21. AMPANG PARMASAN :Bakul tradisionil Batak Toba terbuat dari rotan, dianyam, isi sekitar 20 liter, digunakan untuk takaran padi. Ampang jenis ini juga digunakan dalam upacara-upacara adat.
  22. AMPANG PAPALIAN : Ampang jenis lain dengan isi sekitar 16 liter digunakan untuk upacara-upacara adat seperti tempat padi dan sijogaron pada upacara kematian orang-orang tua yang sudah beranak, bercucu.
  23. PARRASAN  : Tempat padi atau beras dibuat dari bayon (sejenis pandan) dianyam. Isi sekitar 3 Kaleng ( 60 ltr).
  24. ANDOK-ANDOK :Serupa dengan parrasan tapi kecil isi sekitar 1 Liter, biasanya digunakan tempat nasi (tugo) ke ladang atau waktu berpergian.
  25. SOLUP : Terbuat dari bambu, sebagai takaran padi, atau beras.. Ukuran isi sekitar 2 ltr. Solup tidak sama besarnya, jika terjadi suatu transaksi yang dipakai adalah Solup yang didatangi. Dalam hal ini ada ungkapan adat “Sidapot Solup do naro” artinya kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita berada.
  26. SAKKAK : Songkok ayam dibuat dari bambu, untuk tempat ayam bertelor dan mengeram.
  27. SAKKAK HERENGAN : Songkok jenis lain dan lebih besar. Dipakai untuk tempat ayam yang baru menetas agar terhindar dari sambaran burung elang.
  28. SUNUT :Tempat anak ayam dari bambu yang dianyam.
  29. TEKTEK PAMBALBAL : Sejenis palu dari kayu ringan digunakan untuk membalbal (memukul-mukul) miang bagot ( pohon aren) untuk mendapatkan nira atau tuak.
  30. HAJO : Tempayan tempat tuak dibuat dari tembikar.
  31. SEAK-SEAK ( BOKKOR ) : Bahan dari tempurung kelapa digunakan untuk cangkir tuak.
  32. TAKKIK :Sejenis tukil (pahat) alat melobang pohon kemenyan untuk mengambil getah kemenyan.
  33. GURIS HAMINJON : Dibuat dari besi dengan gagang kayu untuk mengambil getah kemenyan.
  34. PARANG : Terbuat dari besi digunakan untuk bermacam-macam keperluan pertanian.

Sumber: http://tbsilalahicenter.org

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment