Tuan Seul dan Jelak Maribur

Tuan Seul dan Jelak Maribur adalah dua nama dari antara keturunan Raja Nai Ambaton. Namun kerap dalam perbincangan, kedua nama kurang dikenal di antara keturunan Raja Nai Ambaton sendiri. Karena itu, dirasa perlu perlu mengingatkan kembali keturunan dari leluhur marga Parna ini.

Anak pertama dari Raja Nai Ambaton adalah Raja Na Bolon. Raja Na Bolon beranakkan Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munthe Tua dan Nahampun Tua. Nahampun Tua tidak memiliki keturunan.

Simbolon Tua memiliki dua putra yakni Tunggul Sibisa (Suri Raja) dan Martua Raja.

Suri Raja kemudian memiliki empat putra yakni:

  1. Tuan Nahodaraja I (Simbolon Tuan)
  2. Altong Na Begu (Simbolon Altong)
  3. Pande Sahata (Simbolon Pande)
  4. Tiha Raja (Simbolon Juara Bulan).

Sementara itu, Martua Raja memiliki 3 putra yakni:

  1. Raja Suhut Ni Huta (Simbolon Suhut Ni Huta)
  2. Sirimbang (Simbolon Sirimbang)
  3. Hapotan (Simbolon Hapotan).

Inilah yang kemudian disebut “Sipitu Sohe” (Ketujuh Penjuru) dari Simbolon. Dalam konteks kemudian, jika sesama marga Simbolon bertemu dan mar-tarombo, mereka akan mengenali saudaranya dengan men-trace keturunan dari manakah mereka dari antara ketujuh leluhur tadi.

Keturunan dari Nahodaraja adalah yang bermarga Simbolon Tuan. Nahoda Raja memiliki seorang putra saja dan demikian hingga 5 generasi berikutnya.

Berikut silisilah 6 generasi yang dimaksud.

Nahoda Raja 1 memperanakkan Tuan Rading Na Bolon
Tuan Rading Na Bolon memperanakkan Tuan Mula Ni Jolma
Tuan Mula Ni Jolma memperanakkan Tuan Mula Ni Huta
Tuan Mula Ni Huta Tuan Nahoda Raja II
Tuan Nahoda Raja II memperanakkan Ompu Tuan Batu Holing.
Ompu Tuan Batu Holing memiliki 6 putra yakni:

  1. Tuan Batangari
  2. Tuan Malingiling
  3. Tuan Lobe
  4. Tuan Seul
  5. Tuan Simbolon
  6. Oppu Raja Gumanti.

Dari keenam orang inilah kemudian keturunan bermarga Simbolon beranak pinak di Kabupaten Samosir.

Dalam konteks ekonomi yang cukup memprihatinkan pada satu periode di wilayah itu, tak terhindarkan bermunculanlah kemudian permasalahan di tengah-tengah kumpulan marga Simbolon di Samosir itu. Inilah yang menyebabkan Tuan Seul dan Tuan Simbolon bertekad untuk menghindari konflik lebih lanjut dengan merantau ke negeri orang.

Maka kedua bersaudara itu pun berangkat ke arah Humbang (Kabupaten Humbang Hasundutan sekarang). Dengan bentang alam perbukitan dan keterbatasan moda transportasi yang ada, satu-satunya pilihan adalah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki dan bekal makanan dan minuman seadanya.

Ketika mereka sampai di daerah perbukitan sebelah perbatasan dengan Pakkat, mereka beristirahat sebentar melepas lelah. Sembari duduk, mereka pun saling menguatkan dan memberi penghiburan satu sama lain supaya tidak berputus asa dalam pelarian mereka. Dengan bayang-bayang bahwa mereka dikuntit oleh saudara mereka berempat yang lain yang seayah, mereka pun mengutarakan niat mereka.

Mereka berdua mengambil “loting” (Batak: pemantik api yang biasa digunakan untuk menyalakan api pada zaman dulu). Yang satu memegang pemantiknya dan yang lain membantu menyalakan api. (Hal ini biasa dilakukan oleh orang zaman dahulu ketika membuat janji.

Tuan Simbolon berkata kepada saudaranya: “Disinilah kita berpisah. Aku akan merintis kampung halamanku sendiri disini. Aku juga akan memulai adat, bahasa dan tradisi yang akan aku teruskan ke semua keturunanku, yakni keturunanmu juga.

Demi mendengar hal itu, Tuan Seul menimpali dengan nada agak keheranan: “Kenapa demikan, Saudaraku? Tetapi apapun niatmu, Aku berharap bahwa semuanya akan baik ke depannya. Tetapi aku akan tetap meneruskan tradisi yang kita bawa dari “Bona Pasogit” (asal leluhur) kita, itulah yang akan aku teruskan juga ke keturunanku nantinya”.

Setelah berbicara dari hati ke hati, mereka pun berpisah. Tuan Seul melanjutkan perjalanan ke arah Barus Lobu Dalong. Kelak keturunan dari Tuan Seul inilah yang kembali secara perlahan lewat beberapa generasi ke Huta Siambaton Siambaton, Pusuk dan Sorkam (wilayah ini disebut Barus Julu pada masa itu).

Inilah alasannya mengapa kemudian nama dari ladang dan kampung yang ada di Huta Samosir juga digunakan di daerah Barus Julu tersebut. Nama-nama seperti Tatia, Ria ni Ate dan lain-lain. Dialek bahasa yang digunakan relatif sama.

Tuan Simbolon pun berangkat ke arah Rittua dan terus menyusuri daerah itu ke arah Parlilitan. Inilah yang kemudian disebut Sionom Hudon hingga hari ini.

Keturunan dari Tuan Simbolon yang mendiami daerah Sionom Hudon inilah yang kemudian mengenakn marga Sibuyak-buyak, Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan dan Nahampun. Ada juga seorang putri yang bernama Bintang Maria, yang kemudian menikah dengan Ompu Parultop (Nainggolan). Keturunan dari Ompu Parultop dan Bintang Maria inilah yang kemudian mengenakan marga Mahulae dan Buaton.

Semua keturunan dari OppuTuan Seul sebenarnya tetap mengenakan Simbolon.

Sementara itu, keturunan dari Tuan Simbolon masing-masing menggunakan marga Sionom Hudon tadi. Inilah yang menyebabkan munculnya kesan di daerah Samosir, bahwa keturunan dari Tuan Simbolon ini menghilang dari peredaran. (Mengingat keterbatasan tradisi lisan, kesan ini cukup mudah berkembang luas di tempat dan waktu itu).

Akan tetapi lama-kelamaan, seiring dengan arus perpindahan penduduk (dengan berbagai faktor yang melatarbelakanginya) serta spirit “merantau” orang Batak, pertemuan antara keturunan dari Simbolon Tuan inipun tidak terhindarkan. Cerita punya cerita, akhirnya keturunan Simbolon Tuan dari Samosir pun menyadari kembali bahwa ternyata saudara mereka dari keturunan Tuan Seul dan Tuan Simbolon ternyata masih ada dan berkembang juga di luar wilayah Samosir.

Lantas apa hubungan antara Tuan Seul dan Jelak Maribur?

Tidak ada hubungan secara langsung, kecuali fakta bahwa keduanya sama-sama keturunan dari raja Nai Ambaton (dan dengan demikian terikat dengan tona ni Nai Ambaton). Tuan Seul adalah keturunan dari Simbolon Tua, sementara Jelak Maribur dari Munthe Tua. Adapun Simbolon Tua dan Munthe Tua adalah anak dari Raja Nai Ambaton, leluhur dari semua marga yang hingga hari ini menyatukan diri dalam punguan Pomparan Nai Ambaton (biasa disebut Parna).

Suatu tawaran reflektif bisa dikemukakan pada titik ini. Tanpa harus tercerabut dari akar silsilah marga-marga Parna, perspektif yang lebih luas untuk tetap saling meng-aku-kan hubungan sebagai satu leluhur (dan kemudian satu tanah leluhur atau bona pasogit) adalah cara paling efektif untuk tetap memelihara ikatan ini.

Marga Simbolon keturunan dari Tuan Seul sempat tidak dikenali dan dianggap hilang dari peredaran oleh marga Simbolon lainya hanya karena mereka berdiam jauh dari bona pasogit marga Simbolon. Tetapi kemudian pertemuan dan sharing sebagai sesama orang Batak dan sesama keturunan dari Nahoda Raja membuat mereka mulai saling memahami mengapa mereka sempat hilang kontak satu sama lain. Saling pengertian inilah yang hendaknya digaungkan. Kisah perpisahan Tuan Seul dari saudara-saudaranya yang lain tidak harus dilupakan, justru harus tetap diingatkan dan diteruskan ke setiap generasi sehingga semua keturunan dari Nahoda Raja tetap merasa dan menyadari kesamaan satu leluhur itu.

Keturunan dari Jelak Maribur sebagian meneruskan mengenakan marga Haromunthe, sebagian lagi kembali mengenakan marga Munthe. Jika diletakkan dalam perspektif yang sama dengan kisah dari Tuan Seul, keturunan dari Jelak Maribur juga bisa tetap memiliki ikatan dan semangat yang sama. Pertemuan dan sharing sebagai sesama orang Batak dan sesama keturunan dari Jelak Maribur hendaknya membuat mereka saling memahami mengapa mereka sempat hilang kontak satu sama lain dan tidak mewariskan marga yang sama di antara keturunan mereka. Saling pengertian inilah yang hendaknya digaungkan. Bahwa sebagian keturunan Jelak Maribur tetap mengenakan marga Haromunthe, sementara keturunan lain dari Jelak Maribur yang sama kembali mengenakan marga Munthe, ini adalah fakta yang dialami saat ini. Kisah dan perspektif harus tetap diingatkan dan diteruskan ke setiap generasi sehingga semua keturunan dari Jelak Maribur tetap merasa dan menyadari kesamaan satu leluhur itu.

Kontributor: Subandri Simbolon, S.S, M.A.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Silsilah OP. Batu Janggar Simbolon OP. Raja Gumanti

Silsilah/Tarombo OP. Batu Janggar Simbolon

OP. Batu Janggar Simbolon adalah anak dari OP. Solobean dan merupakan cucu dari OP. Raja Gumanti. OP. Solobean adalah adik dari OP. Parhujogo.

OP. Raja Gumanti adalah anak dari Tuan Batu Holing yang merupakan keturunan Raja Nabolon Simbolon generasi ke….

Anak dari OP. Batu Janggar ada 4 yaitu:

  1. OP. Sotartugan
  2. OP. Niantar Dolok
  3. OP. Sangar Debata
  4. OP. Sotarungkap Bosi.

OP. Sotartugan mempunyai anak 10, yaitu:

1.OP. Hatunggal

2.OP. Tuan Suhut

  1. OP. Mandahar
  2. OP. Gara Bosi

5.OP. Babiat

  1. OP. Golang Bosi
  2. OP. Tuan Madingin
  3. Appangaga

9.OP. Pangarambu

  1. OP.Juangga

<bersambung…>

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Serba 7 di Pusuk Buhit

Pusuk buhit adalah sebuah gunung tinggi sisa dari letusan Gunung Toba Purba yang maha dahsyat. Letusan gunung ini tercatat sebagai yang paling besar sepanjang sejarah dunia. Tercatat sedikitnya 4 kali Gunung Toba Purba meletus untuk kapasitas yang cukup besar. Masing-masing terjadi pada 800.000, 300.000, 75.000 dan 45.000 tahun lalu. Tiap kali ia meletus, memunculkan kaldera-kaldera baru. Letusan pertama menciptakan kaldera di wilayah selatan yakni Kaldera Porsea-Balige. Letusan kedua melahirkan kaldera di utara, yakni Kaldera Haranggaol. Letusan ketiga menimbulkan Kaldera Sibandang dengan Pulau Samosir. Letusan terakhir memunculkan Kaldera Bakkara dengan Pulau Simamora sebagai lubang magmanya.
Pusuk Buhit berada di Kecamatan Sianjur Mula-mula. Bagi masyarakat Batak, khususnya Toba, gunung setinggi 1.800 mdpl ini, sangat disakralkan, karena dianggap sebagai tempat asa muasal nenek moyang orang Batak ribuan tahun silam.

Menurut foklor, di gunung inilah pertama kali, Deak Parujar, yang menurut keyakinan tradisi merupakan dewi penciptaan orang Batak, memulai menciptakan kehidupan. Ia pun menurunkan generasi selanjutnya yakni Si Raja Batak. Si Raja Batak inilah yang kemudian dianggap generasi awal dimulainya peradaban modern masyarakat Batak.

Si Raja Batak mulanya membuka kampung di Sigulatti, punggung Pusuk Buhit. Situs perkampungannya itu masih bisa dilihat sampai sekarang yakni, berupa rumah adat Batak yang konon dibangun oleh pemerintah atas prakarsa masyarakat dan lembaga adat-budaya.

Selanjutnya Si Raja Batak membuka perkampungan baru, tepat di kaki Gunung Pusuk Buhit. Kampung itu disebut Sianjur Mula-mula, yang kini telah berkembang menjadi kecamatan.

Sebagaimana perannya dalam kebudayaan masyarakat lokal, banyak cerita menarik yang ada di Pusuk Buhit. Sampai saat ini, kisah-kisah itu terpelihara dengan baik dan sebagian besar di antaranya bahkan masih disakralkan. Berikut uraiannya.

7 Lapis Bukit 7 Jam Perjalanan
Untuk sampai ke puncak Pusuk Buhit, khususnya jika melalui jalur dari desa Limbong, kita akan melewati 7 bukit.

Pusuk Buhit memang terdiri atas berlapis-lapis bukit. Melewati bukit satu persatu, adakalanya semakin menjauhkan kita dari puncak yang sebenarnya. Hal ini disebabkan luasnya diameter gunung ini, serta rute pendakian yang melingkar, sehingga di satu titik kita menjauh dari puncak.

Seringkali para pendaki putus asa karena merasa telah mencapai puncak. Padahal puncak yang sebenarnya justru masih sangat jauh. Tidak heran, jika banyak pula kelompok pendaki yang tersesat baik dikarenakan kabut yang turun mendadak maupun keletihan. Para pendaki amatir, biasanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam untuk sampai ke puncak.

7 Rupa Raja Uti
Dalam kosmologi Batak (Toba) Raja Uti, yakni cucu dari Si Raja Batak, mendapat tempat terpenting dalam spiritual orang Batak. Ia merupakan pengantara manusia dengan Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta). Raja Uti dianggap sebagai peletak dasar hukum dan aturan masyarakat Batak. Ia dikenal sakti dan hidup abadi. Raja Uti menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Batak. Konon Sisingamangaraja I-XII memperoleh kesaktian itu dari beliau.

Tidak heran jika masyarakat Batak menaruh hormat pada tokoh ini. Secara lengkap, arketip Raja Uti beserta orangtua dan saudara-saudaranya ada di kaki Gunung Pusuk Buhit. Sangkin dihormatinya, Raja Uti pun memiliki 7 rupa dan penyebutan, yakni; Ompu Raja Uti, Ompu Raja Pusuk Buhit, Ompu Raja Gumeleng-geleng, Ompu Raja Biak-biak, Ompu Raja Parhata, Ompu Raja Hasaktian dan Ompu Raja Hatorusan. Masing-masing rupa dan penyebutan itu didasarkan atas fungsi dan ketokohannya di dalam spirtualitas masyarakat Batak.

Air Pancur 7 Rasa 7 Nama
Desa Aek Sipitu Dai, Limbong, yang berada di kaki Pusuk Buhit menjadi begitu terkenal karena di sini terdapat sumber mata air yang cukup unik. Mata air berupa 7 pancuran ini, berasal dari resapan air di kaki Pusuk Buhit yang tersaring oleh sebatang pohon Hariara (beringin).

Meski bersumber dari satu mata air, namun memiliki 7 rasa, yang keluar dengan deras dari 7 pancuran itu. Ke-7 rasa itu yakni, masam, pekat, asin, tawar, kelat, kesat, pahit. Tidak hanya rasanya saja. Masing-masing pancur juga memiliki nama yang mempunyai pengertian tertentu. Ke- 7 nama itu ialah; Pansuran ni dakdanak yaitu tempat mandi bayi yang masih belum ada giginya. Pancuran ni sibaso yaitu tempat mandi para ibu yang telah tua, yaitu yang tidak melahirkan lagi. Pansuran ni ina-ina yaitu tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan. Pansur ni namarbaju yaitu tempat mandi gadis-gadis. Pansur ni pangulu yaitu tempat mandi para raja-raja. Pansur ni doli yaitu tempat mandi para lelaki. Pansur Hela yaitu tempat mandi para menantu laki-laki yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong.

7 Batu Sakral
Di Pusuk Buhit juga setidaknya terdapat 7 batu yang disakralkan. Pensakralan itu sebenarnya bukan terletak pada batu-batu itu, namun kisah yang ada di baliknya. Ke-7 batu tersebut, masih berkaitan dengan kisah-kisah Raja Uti, yang teramat disakralkan itu.

Ketujuh batu itu antara lain;
Batu Cawan.
Batu ini berbentuk cawan yang diameternya kira-kira 4 meter. Batu ini berada di salah satu sisi Pusuk Buhit. Batu ini berisi air yang tercurah dari atasnya. Bentuknya mirip telaga. Uniknya rasa air di batu itu, sangat masam, seperti perasan jeruk purut. Permukaannya air pun berminyak dan berwarna kuning kehijauan. Konon batu cawan adalah tempat mandi Raja Uti. Batu ini termasuk yang paling disakralkan di antara situs batu lainnya di Pusuk Buhit.

Batu Losung
Batu ini diciptakan oleh Raja Tatea Bulan, bapak dari Raja Uti. Batu Losung adalah tempat menumbuk padi yang sehari-harinya dikerjakan oleh Boru Sipasu Bolon, istri Oppung Raja Tatea Bulan, untuk makanan Raja Uti.

Batu Sondi.
Disebut juga Liang Raja Uti. Di sinilah tempat Raja Uti menatap karena tubuhnya tidak memiliki kaki, dan tangan. Konon sewaktu Raja Uti lahir, bentuknya sekedar gumpalan daging. Tetapi kemudian disempurnakan berkat doa dan meditasi yang ia lakukan selama bertahun-tahun.

Batu Lobang di Tala-tala
Adalah sebuah batu berlubang yang merupakan tempat Si Raja Uti menghabiskan sebagian waktunya untuk berdoa memohon kesempurnaan dari Sang Pencipta. Batu itu terletak di salah satu sudut di kawasan Tala-tala. Tala-tala sendiri adalah sebuah tempat terbuka, kira-kira 600 meter sebelum puncak. Sebuah areal luas, yang ditumbuhi perdu-perduan. Dulunya tempat ini tergenang oleh air, sehingga menyerupai danau. Ada juga menyebut Tala-tala merupakan salah satu kawah tertua sisa letusan Gunung Pusuk Buhit (Gunung Toba Purba). Tekstur tanahnya longgar sehingga ambruk. Sering terdengar ada pendaki maupun ternak yang hilang di situ, mungkin karena terjerumus ke dalam tanah.

Batu Partonggoan
Tempat khusus meditasi Raja Uti dan berdoa kepada Mulajadi Nabolon (Pencipta). Tempat ini sangat dihormati oleh masyarakat Batak, sehingga jarang sekali dikunjungi.

Batu Hobon
Adalah sebuah batu lubang yang tertutup, berbentuk peti. Lokasinya berada di kaki Pusuk Buhit. Konon di batu inilah pusaka-pusaka Si Raja Batak berada. Pusaka ini tidak diturunkan kepada anak-anaknya, karena adanya perselisihan di antara mereka.

Beberapa tahun terakhir, komunitas marga tertentu rutin menggelar pesta budaya-spiritual di tempat ini. Tujuannya agar batu ini terbuka. Diyakini, batu ini akan terbuka jika seluruh masyarakat Batak yang mewakili marga-marga dari seluruh dunia berkumpul dan menggelar pesta di batu ini, selama 7 kali berturut-turut, setidaknya setiap tahunnya.

Batu Parhusipan
Adalah sepasang batu kembar di dekat Batu Hobon. Konon sepasang batu ini memiliki kisah yang menyakut cerita Si Boru Pareme, adik perempuan yang paling dikasihi Raja Uti.

Alkisah Si Boru Pareme dilahirkan kembar dengan saudaranya Saribu Raja.
(jonnes gultom), sumber: medanbisnisdaily.com

pusuk_buhit

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Dukung Jokowi untuk menjadi Presiden RI

Diprediksi bila Jokowi menjadi Presiden RI maka Indonesia menjadi Dahsyat.

Korupsi yang sudah menjadi tradisi akan terkikis karna ketokohan Jokowi yang tidak korup. Hukum akan ditegakkan, APBN akan berdayaguna dan rakyat menjadi sejahtera.

effendi_mega

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Lirik Lagu Pulo Samosir

Pulo Samosir

Pulo Samosir do haroroanku Samosir do
Ido asalhu sai tong ingotonhu |
Saleleng ngolungku hupuji ho | 2x

Disi do pusokhi pardengkeanhu haumangki
Gok disi hansang nang eme nang bawang |
Rarak do pinahan di dolok i | 2x

Ref : Laope au marhuta sada
Tung sopola leleng nga mulak au
Di parjalangan ndang sonang au
Sai tu Pulo Samosir ma sihol au

Molo marujung ma, muse ngolungku sai ingot ma
Anggo bangkeku disi tanomonmu |
disi udeanku sarihon ma |2xMolo masihol ho, di natinombur masihol ho
manang niura dohot na margota
Di Pulo Samosir do dapot ho, manang niura
dohot namargota di Pulo Samosir do dapot ho

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Onan Pasir Sigaol Simbolon Samosir

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Medan – Seratusan orang dari Partukoan Naposo Bangso Batak (PNBB)

Medan – Seratusan orang dari Partukoan Naposo Bangso Batak (PNBB), salah satu organisasi suku batak di Medan, menggelar aksi demonstrasi menolak atas rencana pemberian gelar Raja Batak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Massa menilai, SBY tidak pantas menyandang gelar raja batak karena tidak mampu memimpin bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Aksi penolakan atas rencana pemberian gelar Raja Batak untuk SBY dilakukan di dua lokasi di Medan. Seratusan orang yang tergabung dalam PNBB semula menggelar aksi di kawasan tugu air mancur, Jl. Sudirman, Medan. Dalam aksinya, massa membawa spanduk dan poster kecaman serta menggelar orasi penolakan atas rencana pemberian gelar Raja Batak kepada SBY. Kemudian massa long march menuju Tugu Raja Sisingamangaraja ke XII di Jl. Sisingamangaraja, kawasan Teladan, Medan. Di lokasi ini, massa mengadu kepada arwah Raja Sisingamangaraja XII karena massa menilai TB Silalahi secara sepihak menjual suku Batak demi kepentingan politik. Dalam aksinya, massa juga menangis dan meraung, memohon agar arwah Raja Sisingamangaja mengutuk oknum yang sengaja menjadikan suku batak sebagai komoditas politik elit tertentu. Koordinator aksi PNBB, Edi Barita Malau menegaskan, SBY tidak pantas menyandang gelar raja batak karena tidak pernah memperhatikan sarana dan prasarana di tanah Batak sejak SBY menjabat sebagai presiden. “Pemberian gelar raja batak kepada SBY hanya akan mencederai pluralisme di tengah-tengah masyarakat batak,” kata Edi. Selain menggelar aksi, massa juga membagi-bagikan selebaran kepada pengendara yang melintas di lokasi aksi serta memasang spanduk di sejumlah titik terkait penolakan pemberian gelar Raja Batak kepada SBY. Pemberian gelar Raja Batak kepada SBY rencananya akan ditabalkan saat SBY menghadiri serangkaian acara di Balige, Kabupaten Tapanuli Utara, Selasa (18/1/2011) lusa. Sementara itu, aksi serupa juga digelar di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pukul 11.00 – 12.00 WIB. Massa memiliki argumen serupa, selain karena SBY tidak memiliki darah batak. (rul/nrl)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment