Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA

Di hamu sude pinomparhu na mamungka huta di desa naualu di Tano Sumba, di na manjujung baringin ni Raja Harajaon ni Raja Isumbaon. Partomuan ni aek Partomuan ni Hosa. Mula ni jolma tubu, mula ni jolma sorang. Asa tonahonon ma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut. Asa sisada anak, sisada boru…. Hamu sisada lungun, sisada siriaon, naunang, natongka, na so jadi masibuatan hamu di pinompar muna manjujung goarhu Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon. Asa ise hamu di pomparanhu namangalaosi tonangkon, tu hauma i sitabaon, tu tao ma i sinongnongon, tu harangan mai situtungon. Sai horas horas ma hamu sude pinomparhu di namangoloi podangki.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA

  1. Pingback: Tarombo ni Siraja Batak | Raja Nabolon

  2. kanku ingat slalu dan kanku beritahu kesemua saudara semarga dan anak boru,….San PARNA

  3. tikson napitu says:

    Semoga kita keturunan parna dapat dan mau menghormati dan melaksanakan pesan nenek moyang kita sampai akhir hidup kita,dan mari kita sampaikan kepada saudara2,saudari kita yang blm mengerti atau mgkn blm tau tentang pesan ini,,,horas,,,horas,,,horas,,,,

  4. danil.simbolon says:

    Leluhur, Saya Menghormati Kalian, Tapi Tolong, Jangan Atur Saya!

    Saya ini batak.

    Iya, saya batak. Perkenalkan, saya punya marga, namanya Siallagan.

    Siallagan itu adalah salah satu marga yang masuk dalam PARNA alias punya kepanjangan Parsadaan Raja Nai Ambaton.

    *tak usah panjang-panjang lah saya jelaskan karena saya yakin anda yang bukan batak pasti tetap saja tidak mengerti dengan jelas. Saya aja gak ngerti. hahaha*

    Nah, dalam PARNA itu, ada banyak marga. Ada 68 marga.

    Sampai sini belum ada masalah.

    Oke, ya….Nah, ini dia masalah nya.

    68 marga itu gak boleh saling menikah!!!!!!!

    Siaaall!!!!! Siaaaalll!!!!!

    68 marga itu harus menikah sama marga di luar PARNA!

    Nah, coba kita realistis!

    Sekarang, perbandingan laki-laki dengan perempuan berapa banding berapa?

    Ada 1 : 3. Benar, bukan?

    Nah, yang sedikit itu, masih harus dikurangi dengan yang gay, yang brengsek, yang udah punya gandengan!

    Sekarang udah tinggal dikit, masih harus dikurangi dengan urusan adat?

    Baik…baik,… beberapa boleh bilang, “Dulu juga manusia sedikit, dan PARNA masih lebih banyak. (iya dulu PARNA lebih banyak. Sekarang jadi 68 karena ada beberapa yang punah). Tapi bisa saja mereka menikah tanpa harus melanggar adat.”

    Tapi, saya agak bingung juga kenapa itu masih bertahan sampai sekarang?

    Toh hubungan darah sudah jauh. Toh sekarang memang keadaannya laki-laki jauh lebih sedikit daripada perempuan.

    Budaya memang harus dipegang teguh. Tapi saya rasa ada juga yang perlu dibenahi karena jaman pun terus berubah.

    Ada yang sudah tidak cocok lagi untuk dipertahankan sampai saat ini.

    68 marga yang tidak bisa menikah dengan saya. Dan mau tidak mau, saya harus mencari di luar itu.

    68 marga itu bukan marga yang jarang ada. Setengahnya adalah marga populer yang sering saya temui.

    Akhirnya saya menceritakan ini pada ibu saya. Apa dia bilang?

    “Gak boleh!!! Itu abangmu!!! Cari yang lain! Gak harus batak, kan!?”

    Saya tidak mau jika bukan batak, saya tidak mau jika bukan dia.

    Bagaimana jika saya bilang seperti itu?

    Kenapa saya harus menekan perasaan saya untuk sesuatu yang bukan fundamental untuk saya?

    Saya menghormati adat, tapi adat bukan jalan hidup saya. Bukan pelita hidup saya. Bukan sesuatu yang menyebabkan saya hidup dan bernafas.

    Saya baca injil, bukan baca buku adat.

    Saya nyembah Tuhan, bukan nyembah leluhur saya.

    Setahu saya, di injil , tak ada larangan kawin dengan satu marga *yang jelas-jelas jauh hubungannya*. (Apa saya salah?)

    Dari pengalaman ini, saya semakin belajar agar kelak, saya jadi orangtua yang moderat.

    Jika putri saya suka sama orang, dan orangnya ternyata masih satu keturunan marga dengan dia, saya tidak peduli. Saya akan selalu mendukung putri saya.

    Karena cinta sesuatu yang indah. Dan terlalu indah untuk dirusak oleh persoalan adat.

    Karena cinta itu soal hati, abstrak, perlu kebebasan. Dan terlalu sempit jika diukur oleh norma.

    Karena persoalan cinta adalah persoalan saya dan dia.

    Bukan persoalan anda-anda yang bahkan tidak kenal dengan saya.

    Melanggar adat takut dikucilkan?

    Hah..Haha…

    Dikucilkan bukan sesuatu yang mengerikan buat saya. Cibiran orang bukan sesuatu yang menarik buat saya, bukan sesuatu yang seru yang membuat saya rela untuk menanggapi itu.

    Sekali lagi, saya menghargai leluhur saya.

    Tapi maaf, saya juga punya jalan hidup sendiri. Dan saya pantas untuk menjalani hidup saya seperti apa yang saya mau.

    Kalau leluhur saya boleh berkata,”Kalian adalah satu saudara, tidak boleh saling menikah, walaupun hubungan darah kalian jauh.” Saya pun boleh berkata,”Leluhur, maaf, kau sudah mati. Hentikan pesan mu yang kuanggap lebih sebagai kutukan. Karena aku mau menjalani hidupku dengan bebas. Maaf leluhur. Tapi, mohon, jangan atur saya.”

    • simbolonjr says:

      Ha ha sangat menarik ini statementmu, tapi saya yakin karna dikau masih muda. Darah muda. Leluhur PARNA menurunkan hal untuk tidak saling menikah sesama PARNA tentu punya alasan atau VISI tersendiri. Untuk mengetahui alasan dan Visi tersebut kita perlu menggali dan mempelajari akan sejarah para leluhur kita, dan ini akan memakan waktu yg cukup lama hingga kita bisa mengerti dan bisa menerima. Di Dunia ini banyak hukum, tertulis maupun tidak tertulis, ada hukum alam ada juga aturan keluarga. Umumnya menuruti hukum yg tertulis maupun tidak dan menuruti hukum alam dan hukum keluarga jauh lebih aman daripada melanggarnya. Coba perhatikan http://simbolonnews.com/statis-4-familycode.html, sangat banyak pesan dan aturan yg diajarkan para pendahulu kita, saya yakin dengan menjalankannya pastilah kesuksesan lebih mudah didapatkan. Saya sendiri percaya untuk tidak menikah sesama PARNA itu sangat bagus, pastilah ada suatu rahasia disitu. Hanya karna tidak bisa menikahi sesama PARNA tentulah tidak sangat menyulitkan kita menemukan sibuah hati, konon ceritanya leluhur PARNA putri dari khayanganpun ada yang dinikahinya. Coba gali ketokohan dan hal-hal baik tentang Leluhur PARNA dan selamat mencari sibuah hati yg bukan Putri Parna.

    • Alex Cardo says:

      Aq setuju sama mu. Apa yang dipersatukan ALLAH tidak dapat dipisahkan manusia. Hukum adat adalah buatan manusia. Tapi hukum ALLAH adalah yang kekal.

      Siapa yang menentang ALLAH karena adat, tidak akan bertahan lama.

      Aq menghormati adat, tidak salah dengan adat ku dan aq bangga sebagai anak Batak. Tapi aq lebih bangga lagi karena ternyata ALLAH ku yang membuat ku bertemu dengan pasanganku.

  5. simbolonjr says:

    Ada pepatah leluhur BATAK yang sangat populer dan relevan, “Manang ise namapparrohahon dapotan, naso mapparrohahon ba tung lomona” , artinya “barang siapa yang memperhatikan petuah leluhur maka dia akan beroleh sesuatu, bagi yang tidak memperhatikan terserah dia saja.

    • Jhoni says:

      Margaku juga masuk Parna.. Tapi knapa harus dipisahkan orang yang saling mencintai. Karna urusan parna.. Berdosa kalian.. ! Tuhan aja gak melarng klu bukan saudara.. Rubah tu tatanan parna.. Gak masuk akal.. ! Sering terjadi tu katanya yg sesama parna saling mencintai.. Tertekan karna urusan begituan..niat merka baik tapi susah dibuat aturan yg gak masuk akal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s