Kalender Batak 2010

1. ARTIA: Hari baik untuk mengadakan musyawarah dalam segala hal

2. SUMA: Hari baik untuk memancing ikan, berburu, menjerat dan lain-lain

3. ANGGARA: Hari naas/buang sial, sangat baik untuk berperang dan membuat obat, berburu.

4. MUDA: Hari padi, sangat baik untuk menanam tanaman dan penyemaian

5. BROSPATI: Hari baik untuk berpesta, mendirikan rumah, memasuki rumah baru, mencari pekerjaan dan untuk memulai suatu usaha

6. SIKKORA: Hari baik dalam penentuan, melangkah ke perantauan, melamar pekerjaan, menjumpai orang besar (berpangkat), memulai berdagang, pesta perkawinan, meminang kekasih

7. SAMISARA: Hari “Raja”, sangat baik untuk pengantin baru, pesta, kawin lari, memanggil roh, mandi bunga

8. ARTIANNIEAK: Hari baik untuk semua pesta, musyawarah, mandi bunga, memasuki rumah baru, maaf-maafan, dan memulai usaha baru

9. SUMANI MANGADOP: Hari kurang baik, waspadalah dalam segala hal.

10. ANGGARA SEPULU: Hari sial, berhati-hatilah dalam berkomunikasi, sangat baik untuk membuat obat baru dan memancing

11. MUDA NI MANGODOP: Hari santai )istrahat) dan sangat baik untuk berpesta

12. BROSPATI NI TUNGKUP: Hari baik untuk menyuapi orang besar (berpangkat) melamar suatu pekerjaan, memanggil roh keluarga, mandi bunga, bersekutu dengan Tuhan Ynag Maha Esa

13. SIKKORA PURASA: Hari baik untuk pesta perkawinan, mendirikan rumah, mengunjungi orang tua atau mertua, memasuki rumah baru dan mandi bunga

14. SAMISARA PURASA: Hari “Raja”, sangat baik mengadakan pesta besar, pesta muda-mudi, mengantar anak ke rumah mertua, mandi bunga

15. TULA: Hari sial, yang baik dilakukan menebas ladang dan menanam kelapa

16. SUMA NI HOLOM: Hari yang kurang baik, tetapi baik untuk memancing dan berburu

17. ANGGARA NI HOLOM: Hari buang sial, mandi bunga dan membuat obat

18. MUDA NI HOLOM: Hari panen padi, sangat baik untuk memulai panen padi, memasukkan padi kedalam lumbung

19. BROSPATI NI HOLOM: Hari baik untuk menebang pohon kayu guna bahan bangunan rumah dan memancing

20. SIKKORA MORATURUN: Hari baik untuk mengunjungi sanak famili, pindah rumah dan mengangkat tulang

21. SAMISARA MORATURUN: Hari baik untuk memasang jerat, memancing dan berburu

22. ARTIAN NI ANGGA: Hari baik untuk turun ke laut, membuang penyakit, mandi bunga, membuat obat, memancing ikat dan membuat obat

23. SUMANI MATE: Hari baik untuk berburu dan memancing

24. ANGGARA NI BEGU: Hari baik untuk memanjatkan doa, minta rejeki dan mandi bunga

25. MUDA NI MATE: Hari padi, memanen dan pesta

26. BROSPATI NI GOK: hari baik untuk istrahat, membawa makanan untuk orang tua, mengganti pakaian orangtua, mengunjungi mertua, pesta pernikahan dan membuat obat

27. SIKKORA DUDUK: Hari penyakit, membuat obat, berburu dan memancing

28. SAMISARA BULAN MATE: Hari baik turun ke laut, membuat penyakit, berburu dan memancing

29. HURUNG: Hari kurang aik, berhati-hati dalam rencana/langkah

30. RIKKAR: Hari baik untuk saling maaf-memaafkan (musyawarah) memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber : http://manik.web.id/

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pusuk Buhit wisata alam yang indah dan penuh dengan sejarah

Pusuk Buhit atau dolok natimbo, demikian masyarakat Batak yang berada di Toba Samosir, Sumatera Utara, menyebutnya. Perbukitan dengan ketinggian berkisar 1.800 mdpl tersebut ditumbuhi berbagai pepohonan kecil serta pohon pinus.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak dari bukit inilah untuk pertama sekalinya pencipta alam semesta menampakkan diri, yang dinamakan oleh orang Batak dengan sebutan Mula Jadi Nabolon. Sehingga wajar kalau sampai sekarang kawasan ini masih keramat dan dijadikan salah satu kawasan tujuan wisata sejarah.
Memang membincangkan potensi wisata Toba Samosir tampaknya tidak akan pernah merasa puas, apalagi jika perjalanan itu baru pertama kalinya kita lakukan. Hal ini wajar karena potensi yang di miliki memang sangat kaya terutama soal keindahan alam. Apalagi dipadukan dengan cerita sejarah, boleh dibilang daerah ini adalah salah satu lumbung dari cerita sejarah yang bisa menemani perjalanan wisata Anda. Dari sekian banyak yang bisa dinikmati misalnya Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan, Perkampungan Siraja Batak, Pusuk Buhit, Air Tujuh Rasa dan lainnya.
Dari atas perbukitan ini, sebagai wisatawan yang baru pertama berkunjung ke sana pastilah akan tertegun sejenak. Karena selain panorama yang disajikan memang sangat indah, kita juga bisa melihat secara leluasa sebahagian besar kawasan perairan Danau Toba sekaligus Pulau Samosirnya. Selain itu dari lereng perbukitan tersebut pengunjung yang datang bisa juga menikmati panorama perkampungan yang berada di antara lembah-lembah perbukitan seperti perkampungan Sagala, Perkampungan Hutaginjang yang membentang luas.

Selain pemandangan ini, wisatawan yang datang ke sana tentunya akan melihat dan mendengar gemercik aliran air terjun yang berada persis di perbukitan berdekatan dengan perkampungan Sagala. Masih dari lereng bukit yang jalannya berkelok-kelok tetapi sudah beraspal dengan lebar berkisar 4 meter, pengunjung juga bisa memperhatikan kegiatan pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya. Malah yang lebih asyik lagi adalah menikmati matahari yang akan terbenam dari celah bukit dengan hutan pinusnya.

Untuk mencapai puncak bukit tersebut, pengunjung bisa menggunakan bus roda empat maupun kenderaan roda dua. Namun bus yang dipergunakan tidak bisa sampai di puncak sehingga harus berjalan kaki berkisar 500 meter dari titik akhir parkir kenderaan yang berada di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-Mula. Namun demikian sikap waspada harus tetap dipasang, karena memang jalan yang berkelok-kelok tersebut di kanan dan kirinya selalu ada jurang yang terjal. Selain itu sebelum menuju Pusuk Bukit, dari kawasan Pangururan pengunjung bisa menikmati secara utuh pemandangan bukit dengan latar depan air Danau Toba.
Sementara itu, satu paket dengan perjalan menuju ke puncak Pusuk Buhit pengunjung juga bisa menikmati apa yang disebut dengan sumur tujuh rasa. Disebut sumur tujuh rasa karena memang sumur ini memiliki tujuh pancuran yang memiliki rasa air yang berbeda-beda. Bagi masyarakat sekitar Sumur Tujuh Rasa tersebut sehari-harinya dipergunakan sebagai sumber utama air bersih. Sehingga tidak mengherankan kalau wisatawan datang, banyak masyarakat yang menggunakan air yang berada di sana.

 
Sumur Tujuh Rasa sebenarnya berada di Desa Sipitudai satu kecamatan dengan perbukitan Pusuk Buhit yaitu Sianjur Mula-Mula. Kalau kita mencoba untuk merasakan ketujuh air mancur yang ada, maka dari sumber air mancur itu akan kita rasakan air yang terasa: asin, tawar, asam, kesat serta rasa yang lainnya. Sementara berdasarkan keterangan masyarakat setempat, sumber air yang mancur itu keluar dari mata air yang berada di bawah Pohon Beringin. Memang di bawah lokasi Sumut Tujuh Tersebut tumbuh besar pohon beringin yang sangat rindang dan membuat teduh sekitar lokasi sumur.
Keberadaan Sumur Tujuh Rasa ini sebenarnya sudah lama seiring dengan keberadaan masyarakat perkampungan Sipitudai. Masyarakat sekitar mempercayai kalau keberadaan sumur ini tidak terlepas dari cerita raja Batak yang berada di lokasi tersebut. Kalau cerita muncur ke belakang, maka masyarakat menyebutkan bahwa dulu diperkampungan ini ada kerajaan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mandi serta lainnya mereka mengandalkan sumber air ini.
Cerita ini mungkin ada benarnya, sebab kalau kita amati secara teliti di lokasi yang telah disekat dengan tembok beton oleh masyarakat sekitar akan kita temukan peniggalan seperti batu cucian dari batu alam, lubang-lubang untuk permainan congkak. Jadi, masyarakat yang ada memang mempercayai kalau sumur ini masih keramat dan menjadi salah satu objek yang sering dikunjungi wisatawan yang datang. Hanya satu catatan yang penting untuk lokasi ini adalah masalah penataan dan kebersihan yang memang belum memasyarakat. Tentunya kondisi ini menjadi catatan tersendiri bagi pemda dan masyarakat untuk melakukan penaaan yang lebih baik lagi.

Setelah bergerak menyusuri jalanan yang ada berkisar,maka wisatawan yang berkunjung akan menemukan satu lokasi yang keramat yang disebut lokasi Batu Hobon, Sopo Guru Tatean Bulan atau Rumah Guru Tatea Bulan serta perkampungan Siraja Batak yang lokasinya tidak berjauhan. Dan bila kita tarik garis lurus, maka posisi ketiga lokasi yang masih dianggap keramat ini persis lurus dari satu perbukitan ke perbukitan yang berada di bawahnya. Ketika berada di Sopo Guru Tatea Bulan akan ditemukan patung-patung Siraja Batak dengan keturunannya. Di rumah dengan desain khas masyarakat batak ini juga akan ditemukan patung-patung sebagai penjaga rumah seperti gajah, macan, kuda. Sementara rumah yang berdiri di atas bukit ini didesain dari kayu dan tangga dari batu tetapi atapnya tetap terbuat dari ijuk. Namun yang lebih penting lagi adalah ketika ingin masuk dan memperhatikan lebih detail lagi seluk rumah ini, maka Anda harus melepaskan sandal maupun sepatu. Secara lebih detail di Sopo Guru Tatea Bulan akan kita temukan patung-patung keturunan Siraja Batak, seperti Patung saribu raja berpasangan  dengan istrinya, Patung keturunan Limbong Mulana, Patung Sagala Raja serta Patung Silau Raja.

 Berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak marga-marga yang ada sekarang ini berasal dari keturunan Siraja Batak. Selain itu keberadaan rumah ini juga telah diresmikan oleh DewanPengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tate Bulan tahun 1995 yang lalu. Artinya ketika kita berada di sana akan ditemukan juga penjaga yang akan menjelaskan keberadaan patung yang berada di Sopo Guru Tatea Bulan serta sejarah ringkasnya.
Sejalan dengan legenda itu, pengunjung juga akan menikmati Batu Hobon yang konon menurut cerita merupakan lokasi yang dijadikan penyimpanan harta oleh Siraja Batak. Batu ini berada di perbukitan yang lebih rendah lagi dari Sopo Guru Tatea Bulan berdekatan dengan perkampungan masyarakat. Berdasarkan sejarah Batu Hobon ini tidak bisa dipecahkan, tetapi kalau dipukul seperti ada ruangan di bawahnya. Namun sampai sekarang tidak bisa dibuka walaupun dicoba dilakukan dengan menggunakan mortir.

Selanjutnya untuk melengkapkan referensi tentang sejarah Sopo Guru Tatea Bulan, maka akan ditemukan perkampungan Siraja Batak. Lokasi perkampungan ini berada di perbukitan yang berada di atasnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh sekali berkisar 500 meter.
Untuk kelengkapan perjalanan menuju Pusuk Buhit setidaknya harus berhenti sejenak di atas perbukitan yang berada di Desa Huta Ginjang. Mengapa? Karena dari lokasi ini akan terlihat jelas Pulau Tulas yang berdampingan dengan Pulau Samosir. Pulau Tulas itu sendiri tidak memiliki penghuni tetapi ditumbuhi dengan semak belukar dan hidup berbagai hewan liar lainnya.
Sudah lengkapkah perjalanan wisata kita! Tentulah belum, sebab untuk mengakhirinya kita harus berada di puncak Pusuk Buhit. Setidaknya untuk mendapatkan dan merasakan semilir angin sejuk di puncaknya sambil memandang panorama Danau Toba sesungguhnya. Sedangkan untuk menghilangkan keletihan dan mengambil semangat baru, pengunjung bisa menikmati air hangat setelah turun persis berada di kakai Pusuk Buhit bernama pemandian Aek Rangat yang berada di Desa Sihobung Hobungi. Setidaknya rasa lelah dan semangat baru kembali datang.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pusuk Buhit Layak Jadi Icon Parawisata Toba

Dengan ketinggian 1995  meter  dari permukaan  laut, menurut legenda gunung Pusuk Buhit merupakan  pemukiman nenek moyang orang Batak yang diturunkan dari langit oleh Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa). Nenek moyang orang Batak (Si Raja Batak adalah manusia yang pertama kali diturunkan di Pusuk Buhit) dari keturunannya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Karena  itu, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal mula orang Batak. Pegunungan dan panorama yang menarik menambah keindahan pemandangan. Di  kaki Pusuk Buhit  terdapat  bangun rumah tradisional  Batak. Menurut legenda terjadinya danau Toba dan Pusuk Buhit  akibat peristiwa geografis/geologis  yang disebut menjadi salah satu keajaiban dunia. Danau Toba yang terbentang dengan luas 1.265 km2, panjang 90 kilometer dengan  kedalaman rata-rata 450 meter  dan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Danau Toba  merupakan danau yang terluas dan terdalam di  dunia sehingga  tampak bagai samudera air tawar tak bertepi dengan air jernih. Di atasnya terbentang dari utara  ke selatan Pulau Samosir.

Pusuk Bukit dan kawasan danau Toba (dataran tinggi Toba) menurut penelitian adalah gunung api raksasa (supervolcano) dengan tingkat letusan mencapai skala 8 VEI dan material yang  dimuntahkannya lebih dari 1.000 kilometer kubik. Supervolcano yang pernah terjadi dan diindentifikasi di muka bumi adalah Sv Toba, Indonesia dan Sv Yellowstone, Amerika.

Pakar peneliti menyebutkan, letusan supervolcano Toba pertama terjadi pada saat gunung apinya berpusat di  Porsea, kabupaten Toba Samosir yang meledak 1,7 juta tahun yang lalu dengan tingkat letusan 8 VEI dengan  memuntahkan batu-batuan gunung api dan abu panas  dengan semburan panas mencapai  1.000 derajat Celsius yang dapat melelehkan silika (SiO2). Material yang disemburkan dengan ketebalan 500 meter. Letusan berikutnya terjadi 400.000 tahun  lalu dengan kekuatan yang sama 8 VEI sehingga gunung api tersebut membentuk kaldera di kawasan Porsea.

Gunung api kedua muncul di Haranggaol dan meledak sekitar 800.000 tahun yang lalu yang membentuk kaldera Haranggaol. Sedang gunung api yang ketiga  gunung api Sibandang yang meletus dahsyat  75.000 tahun yang lalu.Letusan berikutnya 30.000 tahun yang lalu yang akhirnya membentuk letusan kepundan berupa cincin  yang keluar melalui kepundan yang melingkari Pulau Samosir sekarang. Banyaknya material yang dimuntahkan dari gunung api menimbulkan terbentuknya ruang kosong di badan  gunung api dan dengan pengaruh gaya tarik bumi, badan  gunung api tersebut runtuh begitu dalam dan terbentuklah kaldera Sibandang. Pulau Samosir adalah tubuh bagian puncak dari gunung api Sibandang yang runtuh. Kaldera Sibandang secara evolusi kemudian berisi air yang melimpah dari dataran di sekelilingnya yang akhirnya terkumpul dan terbentuklah Danau Toba.

Studi paleoantropologi menyebutkan, akibat  debu letusan terakhir gunung api Toba di Sibandang banyak spesies primata (monyet) yang mati apalagi dengan suhu semburan 500 derajat Celsius sehingga  batu bara muda di kawasan Lintongnihuta.Setelah letusan gunung api supervolcano Toba, muncul gunung api baru yaitu gunung Pusuk Buhit  Pangururan/Sianjur mulamula, kabupaten Samosir dan gunung Sipisopiso di Merek, kabupaten, Tanah Karo.

Seorang geologist Belanda Van Bemmellen menyebutkan, Pulau Samosir terbentuk dari aliran lava gunung Batak yang merupakan erupsi dari dua vulkanik terbesar, sebuah letusan vulkanik terbesar di dunia. Aliran lava membentuk Danau Toba seluas 294 km2, panjang 87 kilometer dan lebar terjauh 31 kilometer. Sedang  luas Pulau Samosir disebutkan 640 km2 dan puncak Samosir berada pada ketinggian 1.657 meter  di atas permukaan laut.Kedalaman Danau Toba di kawasan Haranggaol, kabupaten Simalungun adalah 525 meter.
Keunikan dan keotentikan supervolcano Toba dapat dijadikan sebagai objek penelitian ilmiah dan menjadi geopark di kawasan Asia mendampingi geopark Langkawi, Malaysia. Dengan latar belakang sejarah purbakala orang Batak dan hasil penelitian geologi yang menyebutkan kawasan Danau Toba sebagai kaldera letusan gunung api,  Pusuk Buhit  layak dan strategis untuk dijadikan sebagai icon pariwisata kabupaten Samosir

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Tarombo ni Siraja Batak

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng, Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…), keturunannya kearah Barus mereka banyak tidak menggunakan marga.
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN

RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng Raja Hatorusan, Raja Hasaktian,…). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual tetap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu perempuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

  1. Datu Dalu (Sahangmaima).
  2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
  3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
  4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
  5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
  6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :

  1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
  2. Tinendang, Tangkar.
  3. Matondang.
  4. Saruksuk.
  5. Tarihoran.
  6. Parapat.
  7. Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:

  1. Malau
  2. Manik
  3. Ambarita
  4. Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.

Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:

  1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
  2. Op Raja Marihot
  3. Op Marhajang
  4. Op Rajani Umbul

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).

Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.

Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki

  1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
  2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
  3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.

Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita

TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :

  1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
  2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
  3. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai lima orang putra, dan satu orang putri yaitu:

  1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon. Bagi yang ingin mendalami diyakini Ompung Simbolon Tua inilah yang disebut dengan Ompung Pangultop yang terdapat dalam kisah Sileang Leang Nagurasta.
  2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba.
  3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
  4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
  5. Nahampun.

Dan Putrinya

1. Uli Bulung. Namboru ini tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan. Semasa hidupnya belajar dan ahli dalam  mengobati. Dia masih datang melalui sorangannya untuk mengobati hingga saat ini.

Dari kelima marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku ” Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

NAHAMPUN

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:

  1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
  2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
  3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
  4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
  5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):

  1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
  2. Si Paet Tua.
  3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
  4. Si Raja Oloan.
  5. Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
  2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
  3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
  4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
  2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
  3. Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Sihaloho.
  2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
  3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
  4. Sidabutar. Sinabutar (atas koreksian @Soeguest dan @Binsar Sitio) *)
  5. Sidabariba, Solia.
  6. Sidebang, Boliala.
  7. Pintubatu, Sigiro.
  8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
  2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
  3. Bangkara.
  4. Sinambela, Dairi.
  5. Sihite, Sileang.
  6. Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Maha.
  2. Sambo.
  3. Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
  2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Sitompul.
  2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:

  1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
  2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”

artinya:

“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:

  1. Marbun dengan Sihotang
  2. Panjaitan dengan Manullang
  3. Tampubolon dengan Sitompul.
  4. Sitorus dengan Hutajulu – Hutahaean – Aruan.
  5. Nahampun dengan Situmorang.

Catatan:

Ada sedikit tambahan untuk keturunan Nai Ambaton (Parna), untuk yang berkepentingan dapat menghubungi saya untuk penjelasan yang aktual. Silahkan email ke simbolonjr@yahoo.com.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Potensi Wisata Toba Samosir

I.POTENSI BUDAYA/SEJARAH
1.Kawasan Cagar Budaya Pusuk Buhit dengan tempat bersejarah perkampungan si Raja Batak (perkampungan 5 sub etnis Batak)
2.Batu Sawan (batu mengeluarkan air rasa jeruk purut dan pemandian si Raja Batak
3.Batu Hobon (batu tempat menyimpan harta karun-pusaka orang Batak,
4. Batu Parhusipan;, Batu Pargasipan;
5. Aek Sipitu Dai (mata air 7 rasa, dan pancuran khusus)
6.Aek Siboru Pareme (tempat pemandian khusus),
7. Aek Boras (tempat pengambilan air Guru Tatea Bulan)
8. Patung Guru Tatea Bulan,
9. Aek Rangat (pemandian air panas belerang)
10.Pulau Tulas di Danau Toba kaki Pusukbuhit
11.Perkampungan Si Raja Batak di Sagala
12.Tano Ponggol (Terusan), menghubungkan Danau Toba dari arah Selatan ke Utara (sebaliknya) dan di atasnya sebuah Jembatan menghubungkan Pulau Samosir ke Pulau Sumatera melalui Jalan Tele.
13.Mata air dan Pohon Pokki, di Sihotang. 2 km dari Pelabuhan Sihotang. Air jernih milik boru Sihotang, di bawah pohon pokki
14.Sentra Tenun Ulos Batak, di Desa Lumban Suhi- suhi, 4 km dari Pangururan
15.Aek Liang, sebuah gua berisi air memberi dan memenuhi kebutuhan air Desa Aek Liang.
16.Gua Sidamdam dan Makam Si Damdam, tempat persembunyian Pahlawan Si Damdam Malau melawan musuh. Beliau dikebumikan di Desa Siambalo Rianiate
17.Gua Simalliting, sebuah lubang besar di Desa Aek Liang, 2 km ke arah Barat Danau Sidihoni. Di lokasi pengunjung dapat melempar batu dan akan menimbulkan bunyi gemerincing.
18.Batu Hitam, di Desa Sabungan ni Huta, 5 km dari Pangururan. Konon batu berwarna hitam ini dianggap suci dan sakral. Sering didapati burung yang hinggap di atasnya mati, dan menurut para orangtua di tempat ini orang harus berperilaku sopan.
19.Batu Rantai, terdapat di Kota Mogang, tempat bersejarah. Di lokasi terdapat batu yang berpindah- pindah, sehingga oleh Pemerintah Belanda pada Zaman penjajahan batu tersebut diikat dengan rantai supaya tidak berpindah- pindah lagi.
20.Makam si Piso Somalin, merupakan tempat bersejarah di Kota Mogang, 30 km dari Panguuran. Piso adalah sebuah pisau yang digunakan untuk melerai pertentangan antara 2 kelompok masyarakat yang bertikai hebat pada zaman dahulu. Konon Pisau Somalim sangat ampuh dan menciptakan rasa aman- kedamaian bagi masyarakat.
21.Pemandian Boru Saroding, sebuah sumber air pemandian para putri cantik yang turun dari kayangan. Dahulu seorang putri terpaksa tidak bisa kembali dan menjadi Istri seorang Pria dan memberi keturunan. Pemandian Boru Saroding berada di Desa Ransang Bosi sekitar 35 km dari Ibu Kota Pangururan. Penduduk disekitar ramah dan bersahabat.
22. Mata Air Datu Parngongo, terletak 4 km dari Pelabuhan Tamba Kecamatan Sitiotio, arah lokasi menuju bukit. Air jernih, terawat dengan baik,masyarakat meyakini air mempunyai khasiat menyembuhkan penyakit.
23. Gua Datu Parngongo, berada dilering bukit di bawah Mata air Datu Parngongo. Konon gua digunakan untuk tempat semedi Datu Parngongo dalam mempertahankan diri menghadapi musuh.
24. Sigale gale di Tomok; Sigale-gale adalah sebuah patung seorang yang terbuat dari kayu mirip manusia, peninggalan Raja Manggale; yang dapat digerakkan untuk menari bersama gadis-gadis/putri cantik diiringi gondang oleh para musisi tradisonal handal. Berada disebuah kompleks perumahan Batak, 300 m dari Pelabuhan Pariwisata atau Pelabuhan Ferry Tomok. Menuju lokasi terdapat toko- toko Souvenir khas Batak Samosir.

25. Batu Persidangan ( Siallagan Court Stone) dan Batu Parhapuran. Terdapat di huta Sialagan, dikelilingi tembok batu setinggi 1,5 m. Berada di pinggiran Danau Toba, 1 km dari Ambarita Ibu kota Kecamatan Simanindo. Merupakan tempat bersejarah, tempat Raja Siallagan zaman dahulu mengadili para penjahat.
Disebut Batu persidangan karena terdiri dari banyak kursi yang terbuat dari batu- batu besar.Di sudut kampung/huta terdapat patung kuno yg menunjukkan kebesaran kerajaan Sialagan. Didalam huta ini terdapat rumah adat Batak kuno dan museum peralatan rumah tangga zaman dulu.
26.Kuburan Tua, Lesung, Pagar Batu dan Bontean (tambatan solu/kano) di Desa Lontung. Terdapat di perkampungan Raja- raja zaman dahulu yang diperkirakan 300 th silam, dipagari Batu-batu besar (Pasir Debata). Lesung memiliki cucuk pengikat, yang pada zaman duhulu diterbangkan dalam suatu persaingan antar Raja. Bontean adalah tambatan solu/kapal zaman dulu.
28. Huta Gok Asi, sebuah tempat atraksi budaya suku Batak di Simanindo. Dari lokasi terlihat Pulo Tao sebuah Rest Area/tempat beristirahat dan Hotel yang indah di tengah Danau Toba.
29. Liang Sipogu, sebuah gua-lobang besar menjorok kedalam tanah di desa Sangkal, dibawah jalan lintas Ambarita-Simanindo, adalah tempat para ibu-ibu dan anak gadis menganyam tikar; lobang ini panjang ke dalam sekitar 10 meter dan lebar 5 meter dengan pintu masuk mengarah ke pantai Danau.
30. Tuk-tuk Siadong, adalah tanjung, saat ini merupakan ressort yang dipenuhi Hotel dan Wisma serta para seniman pengukir dan pelukis khas suku Batak, sekitar 5 km dari kota Ambarita. Dapat ditempuh dengan kapal 40 menit dari Parapat dan Tiga Raja. Di Resort ini tersedia fasilitas yang dibutuhkan wisatawan seperti internet, entertainment dan berbagai menu makanan khas, nasional dan internasional; fasilitas open stage dan gedung kesenian untuk kegiatan seni-budaya dan olahraga;
31. Souvenir shop, tempat penjualan hasil kerajinan rakyat yang bernuansa budaya dan dijadikan sebagai souvenir juga terdapat di kawasan wisata Tomok, Tuktuksiadong, Ambarita.

II. POTENSI AGRIBISNIS

1 Kawasan Danau Sidihoni dan Kec. Ronggurnihuta terhampar perkebunan kopi rakyat, dan tanaman hortikultura serta buah-buahan
2 Kawasan Aek Natonang di Kec.Simanindo, kawasan Aek Tawar di Ronggurnihuta, terdapat tanaman perkebunan rakyat dan kehutanan, perikanan/peternakan.
3 Kawasan Partukonaginjang dan Tele untuk areal kebun bunga, dan kawasan Kebun Raya di Tomok Kec.Simanindo. 4 Kawasan Tamba, Sihotang, Sianjurmula-mula, Palipi yang merupakan lumbung pangan di Kabupaten Samosir.

III.POTENSI ALAM/LINGKUNGAN

1 Kawasan Pusuk Buhit di Sigulatti (perkampungan Batak pertama), Sitao-tao dan Sijamburnabolak, merupakan tempat yang strategis untuk menikmati panorama/ pemandangan alam ke arah Danau Toba, Pulau Samosir dan kawasan lembah Sianjurmula-mula. Hamparan Danau Toba yang terluas ke arah Tongging dapat dilihat dari tempat ini. Direncanakan di kawasan ini dibangun Garden of Prayer.
2 Menara Pandang Tele, 2 km dari jalan raya simpang Tele menuju Ibu Kota Kabupaten Samosir Pangururan atau 22 km dari Pangururan menuju Jalan Raya Tele, merupakan satu-satunya akses jalan darat menuju Kabupaten Samosir.
3 Partukko Naginjang, tempat untuk menikmati panorama alam Danau Toba dan Samosir yang indah, lokasinya tidak jauh dari Tele.
4 Pemandian Air Panas (Aek Rangat) bercampur belerang di Kelurahan Siogung-ogung 2,5 km dari kota Pangururan, dikaki Pusuk Buhit dan dipinggiran Danau Toba.
5 Pantai Pasir Putih Parbaba, 200 meter ke arah danau dari jalan lingkar Samosir, merupakan tempat rekreasi yang indah dan nyaman, tempat berenang, dan bermain-main bagi anak-anak; pantai yang landai hingga 50 meter ke danau;
6 Air Terjun Sampuran Efrata, desa Sosor Dolok, air terjun setinggi 26 meter dan lebar 10 m. Berada 3 km dari Kota Harian. Sumber air dari dalam bukit, jernih bisa langsung diminum, dingin dan sejuk.
7 Danau Sidihoni, sebuah danau di atas Danau Toba, 8 km ke arah Timur dari Ibu kota Pangururan. Konon warna airnya dapat berubah- ubah dan kering sebagai pertanda akan terjadi sesuatu.
8 Pemandian Air Panas Simbolon (aek rangat), di desa Simbolon, di pinggiran Danau Toba, 12 km dari Ibu Kota Pangururan. Di lokasi pengunjung dapat menyaksikan asap/uap panas berbau belerang yang keluar dari perut bumi.
9. Pantai Sierra Beach Simbolon, di desa simbolon. Pantai ini dekat dengan pancur pemandian air panas sigaung-gaung sekitar 1 km dari pemandian airpanas pada poin 8. Pantai ini cocok untuk tempat bersantai karena lokasinya sepi menikmati danau toba dan view yang indah kearah Sihotang. Pantai ini juga cocok buat yang hobbi mancing terdapat lokasi pemancingan yang banyak ikan ditempat ini.

10. Lagundi Sitamiang, sebuah resort/wisma untuk perkemahan remaja. Disekitar terdapat pemandian alam dan pondok, camping ground, menghadap Danau Toba .
11 Tambun Sukkean, tempat pemandian alam dan panorama Danau Toba di Desa Tambun Sukkean. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini belum memadai.
12 Pohon Besar (Hariara Bolon), disebut sebagai pohon terbesar di dunia, terbentuk dari beberapa pohon menyatu menjadi satu. Banyak dikunjungi Tourist dari manca negara terutama Korea dan Jepang.
13 Aek Natonang, di Desa Tanjungan, 18 km dari Tomok, pada ketinggian 1.000 m dpl. Sebuah danau di atas Danau Toba, dikelilingi Hutan dan pepohonan. Direncanakan sebagai Hutan Wisata, dengan luas 105 ha. 1 km dari lokasi ini terdapat Panatapan, suatu dataran yang merupakan tempat memandang Danau Toba, yang sangat indah menawan.
14 Pantai Bebas Sukkean, Danau Toba, dengan pantai pasir putih, penuh batu – batu putih. Dapat digunakan mandi, berjemur menyaksikan keindahan Danau Toba. Dapat ditempuh 2 jam dari Pangururan lewat Jalan Raya atau 30 menit dari Tomok ke arah Lagundi. Dari Sukkean, ke Pohon Besar hanya jarak 1 km.
15 Pantai Pasir Putih, di desa Marria Raja dengan pasirnya yang putih di tepi Danau Toba. Berada sekitar 3 km dari Kota Nainggolan. Pantai Pasir Putih digunakan untuk wisata mandi alami dengan air Danau Toba yang jernih dan dingin.
16 Gua Marlangkop di desa Tanjungan,
IV. POTENSI OLAH RAGA

1 Partukko Naginjang berada di jalan lintas Sidikalang-Doloksanggul, layak untuk tempat kegiatan olahraga terbang layang (gantole, paralayang) dan Janji Martahan sebagai tempat mendarat peterbang layang dari Partukko Naginjang. Panoramanya indah dan hawa sejuk.
2 Danau Sidihoni, sebuah danau di atas Danau Toba, 8 km ke arah Timur dari Ibu kota Pangururan, dapat digunakan untuk lomba layar atau olah raga lainnya. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini sudah memadai.
3 Perairan Bebas Ambarita, di Pantai Ambarita. Tempat pemandian dan memancing, olah raga layar. Akses Jalan dan Transportasi menuju daerah ini cukup memadai.
4 Danau Toba di kawasan Tuktuk-Tomok; tempat olah raga renang, menyelam dan berlayar, sangat strategis karena berada di kawasan teluk/tanjung.
5 Pantai Pasir Putih Parbaba, tempat olahraga volly pantai, renang, dayung dan tempat hiburan/permainan anak-anak.
6 Bukit Siulakhosa, tempat olahraga gantole dan paralayang, terbang mengelilingi kawasan Tomok dan Tuktuksiadong dan mendarat di Bukit Betha atau pantai Danau Toba.
7 Kawasan Bukit Betha dan Open Stage Tuktuksiadong serta kawasan Ambarita untuk olah raga Atletik, Sepeda, Motor Cross, dan sebagainya.
8 Olahraga yang diminati secara lokal antara lain : catur, renang, menyelam, dayung, bolakaki, bola volly, atletik dan beberapa olahraga tradisional seperti Margala, Engrang, Lari/jalan lintas alam.

V. LEGENDA-LEGENDA

1 LEGENDA PUSUK BUHIT
2 LEGENDA SIRAJA BATAK
3 LEGENDA DANAU TOBA-SAMOSIR
4 LEGENDA AEK SIPITU DAI
5 LEGENDA BATU SAWAN
6 LEGENDA DATU PARNGONGO
7 LEGENDA SIPISO SOMALIM
8 LEGENDA PARHUDAMDAM
9 LEGENDA SI BORU SARODING
10 LEGENDA NAN TINJO
11 LEGENDA SI BORU PAREME
12 LEGENDA BATU PARHUSIPAN
13 LEGENDA BATU PARGASIPAN
14 LEGENDA SI RAJA LONTUNG
15 LEGENDA PAROMASAN
16 LEGENDA BATU MARTINDI
17 LEGENDA BATU RANTE
18 LEGENDA BATU GURU
19 LEGENDA TAO SILALAHI
20 LEGENDA TUKTUKSIADONG (TUKTUK SIASU)
21 LEGENDA RUMAH ADAT BINANGA ARA
22 LEGENDA LIANG SIPOGU di sangkal
23 LEGENDA RAJA SIDABUTAR
24 LEGENDA BATU PERSIDANGAN
25 LEGENDA PULO TAO/PULO MALAU
26 LEGENDA PULO TULAS
27 LEGENDA PULO TOLPING
28 LEGENDA TAO SIDIHONI
29 legenda liang onanrunggu
30 legenda na martua si oma di silima lombu
31 legenda silengge di ambarita.

Sumber : http://news.tobaonline.com

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 2 Comments

Keturunan atau anak dari Raja Nai Ambaton

Ada 5 anak laki dan 1 perempuan keturunan ompung ini:

1. Simbolon Tua

2. Tamba Tua

3. Saragi Tua

4. Munte Tua

5. Nahampun

6. Uli Bulung (boru).

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA

Di hamu sude pinomparhu na mamungka huta di desa naualu di Tano Sumba, di na manjujung baringin ni Raja Harajaon ni Raja Isumbaon. Partomuan ni aek Partomuan ni Hosa. Mula ni jolma tubu, mula ni jolma sorang. Asa tonahonon ma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut. Asa sisada anak, sisada boru…. Hamu sisada lungun, sisada siriaon, naunang, natongka, na so jadi masibuatan hamu di pinompar muna manjujung goarhu Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon. Asa ise hamu di pomparanhu namangalaosi tonangkon, tu hauma i sitabaon, tu tao ma i sinongnongon, tu harangan mai situtungon. Sai horas horas ma hamu sude pinomparhu di namangoloi podangki.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 6 Comments